Presiden Filipina

Daftar Presiden Filipina
Presiden Filipina adalah kepala negara dan kepala pemerintahan di Republik Filipina. Presiden Filipina dikenal oleh masyarakat setempat dengan sebutan Ang Pangulo atau Pangulo. Misalnya Ang Pangulong Benigno S. Aquino III untuk presiden yang sedang menjabat sekarang.
Kualifikasi

Menurut konstitusi yang sekarang (1987), Presiden harus berusia minimum 40 tahun, warga negara Filipina karena kelahiran, dan telah menjadi penduduk Filipina sekurang-kurangnya selama 10 tahun sebelum pemilihan umum.

Saat ini, pejabat setingkat presiden adalah:
#          Nama                           Jabatan
1              Jejomar Binay                     Wakil Presiden
2              Juan Ponce Enrile                Presiden Senat
3              Feliciano Belmonte, Jr.       Ketua Parlemen

Jejomar Binay
Jejomar Cabauatan Binay (lahir di Paco, Manila, Filipina, 11 November 1942) tampil ke-15 sebagai Wakil Presiden Filipina.

Presiden
No       Nama   Mulai Jabatan  Akhir Jabatan  Partai Politik   Keterangan
1              Emilio Aguinaldo                 23 Januari 1899   1 April 1901          Tidak Ada             Republik Pertama
2              Manuel L. Quezon              15 November 1935             1 Agustus 1944    NP           Republik Kedua
3              Jose P. Laurel                       14 Oktober 1943 17 Agustus 1945  Tidak Ada             Pesemakmuran
4              Sergio Osmeña                     1 Agustus 1944    28 Mei 1946         NP           Republik Kedua
5              Manuel Roxas                     28 Mei 1946         15 April 1948       LP           Republik Ketiga
6              Elpidio Quirino                     17 April 1948       30 Desember 1953              LP
7              Ramon Magsaysay            30 Desember 1953              17 Maret 1957     NP
8              Carlos P. Garcia                   18 Maret 1957     30 Desember 1961              NP
9              Diosdado Macapagal         30 Desember 1961              30 Desember 1965              LP
10           Ferdinand E. Marcos          30 Desember 1965              25 Februari 1986 NP           Republik Keempat
11           Corazon C. Aquino             25 Februari 1986 30 Juni 1992         UNIDO  Republik Kelima
12           Fidel V. Ramos                    30 Juni 1992         30 Juni 1998         Lakas
13           Joseph Ejercito Estrada      30 Juni 1998         20 Januari 2001   PMP
14           Gloria Macapagal-Arroyo 20 Januari 2001   30 Juni 2010         Lakas
15           Benigno S. Aquino III        30 Juni 2010         sedang menjabat LP

Emilio Aguinaldo
Jendral Emilio Aguinaldo y Famy (lahir di Cavite El Viejo (Kawit), Cavite, 22 Maret 1869 – meninggal di Quezon City, Metro Manila, 6 Februari 1964 pada umur 94 tahun) adalah Presiden Filipina yang pertama. Ia adalah presiden termuda di negara tersebut. Aguinaldo memainkan peran penting selama revolusi Filipina melawan Spanyol, dan juga Perang Filipina-Amerika.

Manuel L. Quezon
Manuel Luis Quezon y Molina (lahir di Baler, Tayabas, Filipina, 19 Agustus 1878 – meninggal di Danau Saranac, New York, Amerika Serikat, 1 Januari 1944 pada umur 65 tahun) adalah Presiden Filipina yang ke-2. Ia menggantikan Emilio Aguinaldo dan mengakhiri jabatan kepresidenannya pada tahun 1944, saat digantikan oleh Sergio Osmeña.

Jose P. Laurel
José Paciano Laurel y García (lahir di Tanauan, Batangas , 9 Maret 1891 – meninggal di Manila, 6 November 1959 pada umur 68 tahun) adalah Presiden Filipina yang ke-3.

Sergio Osmeña
Sergio Osmeña (lahir di Cebu City, 9 September 1878 – meninggal di Quezon City, 19 Oktober 1961 pada umur 83 tahun) adalah Presiden Filipina yang ke-4. Ia menggantikan Manuel L. Quezon dan mengakhiri jabatan kepresidenannya pada tahun 1946, saat digantikan oleh Manuel Roxas.

Manuel Roxas
Manuel Acuña Roxas (lahir di Capiz (now Roxas City), Capiz, 1 Januari 1892 – meninggal di Clark Air Base, Angeles, Pampanga, 15 April 1948 pada umur 56 tahun) adalah Presiden Filipina ke-5. Ia menggantikan Sergio Osmeña dan mengakhiri jabatan kepresidenannya pada tahun 1948, saat digantikan oleh Elpidio Quirino.

Elpidio Quirino
Elpidio Rivera Quirino (lahir di Vigan, Ilocos Sur , 16 November 1890 – meninggal di Quezon City, 29 Februari 1956 pada umur 65 tahun) tampil ke-6 sebagai Presiden Filipina. Ia menggantikan Manuel Roxas dan mengakhiri jabatan kepresidenannya pada tahun 1957, saat digantikan oleh Ramon Magsaysay.

Ramon Magsaysay
Ramon del Fierro Magsaysay (lahir di Iba, Zambales , 31 Agustus 1907 – meninggal di Gunung Manunggal, Balamban, Cebu, 17 Maret 1957 pada umur 49 tahun) adalah Presiden Filipina yang ke-7. Ia menggantikan Elpidio Quirino dan mengakhiri jabatan kepresidenannya pada tahun 1957, saat digantikan oleh Carlos P. García.

Carlos P. Garcia
Carlos Polistico Garcia (lahir di Talibon, Bohol, 4 November 1896  – meninggal di Bohol, Filipina, 14 Juni 1971 pada umur 74 tahun) adalah Presiden Filipina ke-8(1957-1961). Pemerintahannya terkenal karena kebijakannya "Utamakan Bangsa Filipina", yang mengutamakan kepentingan rakyat Filipina di atas kepentingan bangsa-bangsa asing dan partai yang berkuasa.

Masa kecil dan karier
Garcia dilahirkan di Talibon, Bohol dari ayah Policronio Garcia dan ibu Ambrosia Polistico (keduanya berasal dari Bangued, Abra). Garcia dibesarkan dengan politik, karena ayahnya menjabat sebagai walikota munisipal selama empat masa jabatan.
Garcia memperoleh pendidikan dasarnya di tempat kelahirannya Talibon, dan kemudian menempuh pendidikan menengahnya di SMU Provinsi Cebu. Ia mengambil program pendidikan hukum sebentar di Universitas Silliman di Dumaguete City. Ia lalu belajar di Sekolah Hukum Filipina dan mendapatkan gelarnya pada 1923. Ia merupakan salah satu di antara lulusan terbaik dalam ujian untuk menjadi pengacara.

Diosdado Macapagal
Diosdado Pangan Macapagal (lahir di Lubao, Pampanga , 28 September 1910 – meninggal di Makati City, Metro Manila, 21 April 1997 pada umur 86 tahun) adalah politikus Filipina. Ia menjabat sebagai Presiden Filipina ke-9 dan presiden kelima dari republik ketiga. Ia terpilih pada tahun 1961 untuk menggantikan Presiden Carlos P. Garcia. Jabatannya berakhir pada 1965 ketika ia dikalahkan oleh Presiden Ferdinand Marcos. Ia dijuluki "Orang Jujur" (The Incorruptable). Presiden Gloria Macapagal-Arroyo yang menjabat sebagai Presiden Filipina sejak tahun 2001 adalah anak perempuan dari istri keduanya.

Awal hidup dan karier
Macapagal lahir di Lubao, Pampanga dari sebuah keluarga miskin, Urbano Macapagal dan Romana Pangan. Ia lulus terbaik dari SD Lubao dan lulus kedua terbaik dari SMA Pampanga. Meskipun keluarganya miskin, berkat bantuan Menteri Dalam Negeri saat itu Honorario Ventura, ia belajar ilmu hukum di Universitas Santo Tomas. Ia berhasil meraih gelar Doktor dalam Hukum Sipil dan Ph.D. dalam ilmu ekonomi di universitas yang sama.
Ia mendapat gelar hukumnya pada 1936. Ia kemudian bekerja sebagai pengacara untuk sebuah perusahaan Amerika di Manila dan menjadi asisten hukum Presiden Manuel L. Quezon. Pada masa pendudukan Jepang selama Perang DuniaII, Macapagal membantu satuan-satuan anti Jepang dan menjadi penghubung intelijen dengan gerilyawan AS. Pada saat itulah istri pertamanya meninggal dunia karena kekurangan gizi. Ia kemudian menikah dengan Evangelina Macaraeg, ibu dari Presiden Gloria Macapagal Arroyo.

Potret resmi Presiden Macapagal yang dikeluarkan oleh istana Malacañang

Pada tahun 1948, ia menjadi sekretaris dua di Kedutaan Filipina di Washington, DC. Pada tahun 1949, ia terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan dan menjabat hingga 1956. Pada saat itu pula ia tiga kali menjadi wakil Filipina di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-bangsa
Pada tahun 1957, sebagai anggota Partai Liberal, ia menjadi wakil presiden di bawah Presiden Carlos Garcia dari Partai Nacionalista.

Kepresidenan
Macapagal terpilih sebagai presiden pada tahun 1961 oleh sebuah koalisi antara liberal dan progresif, serta mengalahkan upaya pemilihan kembali Carlos P. Garcia. Ia memusatkan perhatiannya pada upaya-upaya membasmi korupsi dalam pemerintahan. Dalam usahanya untuk merangsang perkembangan ekonomi, ia menerima nasihat dari pendukung-pendukungnya yang kaya dan membiarkan mata uang peso Filipina mengambang dengan mengikuti pasar pertukaran valuta. Kebijakan ini menguras jutaan peso setiap tahunnya dari perbendaharaan negara selama masa pemerintahannya. Upaya-upaya pembaruannya dihalangi oleh Nacionalista, yang mendominasi Dewan Perwakilan dan Senat pada waktu itu. Namun demikian, rata-rata tingkat pertumbuhan PDB di masa kepresidenan Macapagal adalah 5,15%.
Pada 1962, ketika Amerika Serikat menolak untuk terakhir kalinya klaim-klaim keuangan Filipina atas kehancuran yang ditimbulkan oleh pasukan-pasukan Amerika selama Perang Dunia II, Macapagal mengubah perayaan resmi Hari Kemerdekaan dari 4 Juli (hari ketika AS memberikan kemerdekaan Filipina pada 1946) menjadi 12 Juni (tanggal ketika Emilio Aguinaldo mengumumkan kemerdekaan dari Spanyol pada 1898). Macapagal mengklaim bahwa waktu keputusan untuk mengubah Hari Kemerdekaan Filipina tidaklah didasarkan kepada kebencian kepada AS, melainkan lebih sebagai keputusan hukum tentang waktu yang telah ditetapkan sebelumnya. Pada masa jabatannya, Macapagal juga mengambil keputusan untuk mengakui José P. Laurel, yang dijadikan Presiden Filipina oleh tentara pendudukan Jepang, sebagai presiden resmi negara itu. Sebelum itu, rezim Laurel tidak diakui oleh pemerintahan-pemerintahan Filipina setelah Perang Dunia II, karena dianggap tidak mempunyai status hukum apapun.
Pada 1965, ia dikalahkan dalam pemilu presiden oleh Ferdinand Marcos yang menang besar atasnya. Marcos membangun koalisi konservatif untuk menghalangi pembaruan-pembaruan Macapagal.

Pasca-jabatan sebagai Presiden
Pada 1971, Macapagal terpilih sebagai presiden konvensi konstitusional yang merancang apa yang kelak menjadi Konstitusi 1973.
Pada 1979 Macapagal membentuk Uni Nasional untuk Pembebasan untuk menentang rezim Marcos. Setelah pensiun, Macapagal banyak membaca dan menulis. Ia menulis sejumlah buku, dan menulis sebuah kolom mingguan untuk surat kabar Manila Bulletin.
Diosdado Macapagal meninggal dunia karena gagal jantung, radang paru-paru dan komplikasi ginjal di Makati Medical Center pada 21 April 1997. Ia dikebumikan di Libingan ng mga Bayani.

Ferdinand Marcos
Ferdinand Edralín Marcos adalah Presiden kesepuluh Filipina. Ia menjabat dari 30 Desember 1965 hingga 25 Februari 1986.
Marcos lulus dari Fakultas Hukum Universitas Filipina dengan gelar cum laude pada tahun 1939. Ia turut berperang melawan Jepang dalam Perang Dunia II dan memperoleh penghargaan atas jasa-jasanya selama perang. Pada tahun 1954, ia menikah dengan Imelda Romuáldez yang kelak akan membantunya dalam kampanye presidennya. Ia kemudian bergabung dengan Partai Nacionalista, dan bersama dengan calon wakil presidennya Fernando Lopez, ia mengalahkan presiden Diosdado Macapagal dalam pemilu 1965.

Marcos adalah presiden Filipina pertama yang terpilih untuk menjabat selama dua masa bakti berturut-turut secara penuh. Pada tahun 1972, ia mendirikan rezim otoriter yang memperbolehkannya tetap berkuasa hingga rezim tersebut dihapus pada 1981, dengan menggunakan hukum darurat militer sebagai alat untuk menekan oposisi.

Ia kemudian dilantik kembali pada tahun yang sama untuk menjabat masa bakti selama enam tahun yang diwarnai pengaturan politik yang tidak baik, masalah kesehatan, serta pelanggaran hak asasi manusia oleh pihak militer dan korupsi yang merajalela dalam pemerintahan. Pada masa inilah, terjadilah kasus pembunuhan pemimpin oposisi Benigno Aquino, Jr., yang terjadi tahun 1983. Hal ini mulai memicu ketidakpuasan publik terhadap pemerintahannya. Secara umum, rezim Marcos sama dengan rezim Orde Baru di Indonesia, dengan karakteristik yang hampir sama. Marcos memiliki visi Bagong Lipunan (Masyarakat baru), dimana doktrinnya adalah "orang miskin dan kaya harus bekerjasama satu sama lain untuk menuju satu tujuan masyarakat dan mencapai kebebasan melalui kesadaran diri". Karakter rezim ini yang serupa Orde Baru adalah lebih menekankan pembangunan ekonomi negara, yang banyak memanfaatkan pinjaman dari luar negeri.
Pada tahun 1986, ia terpilih untuk keempat kalinya dalam sebuah pemilu yang diduga dipengaruhi kecurangan. Marcos akhirnya diturunkan dari jabatannya sebagai presiden dalam Revolusi EDSA, sebuah revolusi yang damai di bawah pimpinan Corazon Aquino (janda Benigno Aquino), pada tahun yang sama.
Bersama dengan istrinya, Imelda, Marcos melarikan diri ke Hawaii. Di sana ia dituduh menggelapkan uang negara dan pinjaman dari luar negeri untuk kepentingannya dan kroni-kroninya (terutama pinjaman dari Amerika Serikat, yang merupakan sekutu terdekat Filipina) dan ditemukan bersalah. Marcos meninggal dunia di Honolulu, Hawaii pada tahun 1989 akibat penyakit ginjal, jantung, dan paru-paru. Marcos pertama dikebumikan di Hawaii, sejak itu dimakamkan di kuburan besar indah di Kota Batac, provinsi Ilocos Utara.

Corazon Aquino
Maria Corazon Sumulong Cojuangco Aquino (lahir di Paniqui, Tarlac, Filipina , 25 Januari 1933 – meninggal di Makati, 1 Agustus 2009 pada umur 76 tahun), dikenal luas dengan 'Cory Aquino', adalah Presiden Filipina pada 1986 – 1992. Dialah wanita Asia pertama yang tampil sebagai presiden wanita di dunia. Wanita ini adalah istri dari tokoh oposisi yang populer, senator Benigno Aquino Jr.. Suaminya terbunuh sesaat setelah mendarat di Bandara Internasional Manila ketika kembali ke negaranya pada 21 Agustus 1983. Ia kemudian difigurkan oleh kalangan oposisi untuk menentang kekuasaan otokratik yang dilakukan Presiden Ferdinand Marcos.

Fidel Ramos
Fidel Valdez Ramos (lahir di Lingayen, Pangasinan, Filipina, 18 Maret 1928) adalah Presiden Filipina ke-12. Ia menggantikan Corazon Aquino dan mengakhiri jabatan kepresidenannya pada tahun 1998, saat digantikan oleh Joseph Estrada.

Joseph Estrada
Joseph Ejercito Estrada (lahir di Tondo, Manila, 19 April 1937) dengan nama José Marcelo Ejército akrab dipanggil 'Erap' adalah seorang aktor film populer di Filipina. Ia menjabat sebagai Presiden Filipina ke-13 pada periode 30 Juni 1998-20 Januari 2001.
Tahun-tahun Kehidupan dan Karier
José Marcelo Ejército lahir di Tondo, sebuah wilayah di Manila.
Skandal korupsi merusak pemerintahannya, sehingga karier kepresidenannya berakhir. Pemerintahannya dijatuhkan rakyat dalam revolusi people power (kekuatan rakyat) yang dikenal dengan nama Revolusi EDSA II. Dia digantikan wakil presidennya, Gloria Macapagal-Arroyo. Sebelumnya dia juga adalah wakil presiden Filipina pada tahun 1992-1998.
Pada 12 September 2007, Ia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup karena korupsi yang ia lakukan.[1]

Pemilihan Umum Presiden 2010
Pada Pemilu Presiden 2010, dia menduduki peringkat kedua setelah Noynoy Aquino dalam pengumpulan suara. Posisi kedua yang diraihnya cukup mengejutkan berbagai kalangan mengingat dalam jajak pendapat sebelum pemilu dilakukan, poisisinya berada di urutan ketiga atau keempat. Jika sampai akhir penghitungan suara atau pengumuman posisinya tetap tidak bergeser ke peringkat teratas, karier politiknya besar kemungkinan akan berakhir di sampai di sini.

Anggota Kabinet
Jabatan
Nama   Periode Jabatan
Presiden
Kepala Negara
Kepala pemerintahan        Joseph Ejercito Estrada      1998-2001
Wakil Presiden                     Gloria Macapagal-Arroyo 1998-2001
Sekretaris Eksekutif            Ronaldo Zamora 1998-2000
Edgardo Angara  2000-2001
Menteri Penerangan            Ricardo Puno       1999-2001
Juru Bicara Kepresidenan Fernando Barican               1998-2001
Menteri Pembangunan dan Perekonomian Nasional  Felipe Medalla     1998-2001
Menteri Reformasi Agraria                Horacio Morales  1998-2001
Menteri Pertanian                William Dar          1998-1999
Edgardo Angara  1999-2001
Domingo Panganiban         2001
Menteri Anggaran dan Manajemen                Benjamin Diokno                1998-2001
Menteri Pendidikan             Bro. Andrew Gonzales        1998-2000
Menteri Energi      Mario Tiaoqui      1998-2001
Menteri Lingkungan dan Sumber Daya Alam              Antonio Ceriles    1998-2001
Menteri Keuangan              Edgardo Espiritu  1998-2000
Jose Pardo             2000-2001
Menteri Luar Negeri            Domingo Siazon, Jr.            1998-2001
Menteri Kesehatan             Dr. Felipe Estrella 1998
Dr. Alberto G. Romualdez 1998-2001
Menteri Dalam Negeri dan Pemerintahan Lokal          Ronaldo Puno      1998-1999
Alfredo Lim          1999-2001
Menteri Kehakiman           Serafin Cuevas    1998-2000
Artemio Tuquero 2000-2001
Menteri Buruh dan Ketenagakerjaan             Bienvenido Laguesma       1998-2001
Menteri Pertahanan Nasional           Orlando Mercado                1998-2001
Penasehat Keamanan Nasional       Alexander Aguirre               1998-2001
Menteri Pekerjaan Umum dan Jalan Raya   Gregorio Vigilar    1998-2001
Menteri Ilmu Pengetahuan dan Teknologi     William Padolina 1998-2001
Menteri Kesejahteraan Sosial dan Pembangunan       Gloria Macapagal-Arroyo 1998-2000
Menteri Pariwisata              Gemma Cruz-Araneta        1998-2001
Menteri Transportasi dan Komunikasi           Josefina Lichauco               1998-2001
Menteri Perdagangan dan Industri  Jose Pardo             1998
Mar Roxas            1998-2001
Menteri Kepala Staf Kepresidenan Aprodicio Lacquian            1998-2001

Gloria Macapagal-Arroyo
Maria Gloria Macaraeg Macapagal Arroyo (lahir di San Juan, Rizal, 5 April 1947) adalah Presiden Filipina saat ini. Ia adalah presiden wanita setelah Corazon C. Aquino di negaranya. Ayahnya adalah mantan Presiden Diosdado Macapagal (1961-1965).
Sebelum menjabat sebagai presiden, Arroyo adalah wakil presiden wanita pertama di negaranya. Ia mencapai kedudukan sebagai presiden pada tahun 2001 melalui kudeta tak berdarah yang disebut Revolusi EDSA II yang menggulingkan Presiden Joseph Estrada di tengah-tengah tuduhan korupsi. Arroyo terpilih untuk masa jabatan enam tahun pada 2004 setelah unggul atas aktor Fernando Poe, Jr.. Poe Jr kemudian meninggal pada 14 Desember 2004 karena stroke.
Pada tahun 2005, Arroyo dipilih sebagai wanita keempat yang paling berkuasa di dunia menurut versi Majalah Forbes. Ia menempati peringkat ke-45 dalam daftar Majalah Forbes dari 100 Tokoh Wanita Paling Bekuasa Dunia pada 2006.[1]
Gloria Macapagal semasa gadis (ujung kanan) dan keluarganya dalam foto keluarga. Saat foto ini diambil, ayahnya, Diosdado Macapagal adalah Presiden Filipina.

Kehidupan Awal
Arroyo dilahirkan dengan nama Maria Gloria Macaraeg Macapagal dari Diosdado Macapagal, seorang politikus, dan Evangelina Macaraeg Macapagal. Tahun-tahun pertama kehidupannya dijalaninya di Lubao, Pampanga bersama dua kakaknya dari perkawinan pertama ayahnya.[2] Ketika berusia empat tahun, ia menjadi iri dengan adik lelakinya yang baru lahir dan kemudian memilih untuk tinggal bersama neneknya di Iligan.[3] Ia tinggal di sana selama tiga tahun, lalu membagi waktunya antara Mindanao dan Manila hingga berusia 11 tahun.[3]
Pada tahun 1961, ketika usianya baru 14 tahun, ayahnya terpilih menjadi presiden. Ia pindah bersama keluarganya ke Istana Malacañang, Manila. Ia belajar di Assumption Convent untuk pendidikan dasar hingga lanjutannya, lulus sebagai yang terbaik pada 1964. Arroyo kemudian belajar selama dua tahun di Sekolah Dinas Luar Negeri, Universitas Georgetown, di Washington, D.C.. Di kampus tersebut, ia sekelas dengan mantan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton dan terus-menerus namanya masuk dalam daftar Dekan sebagai salah seorang mahasiswa terbaik.[4] Ia memperoleh gelar sarjananya dalam bidang ekonomi dari Assumption College dengan predikat magna cum laude pada 1968.
Pada tahun 1968, Arroyo menikah dengan pengacara dan pengusaha Jose Miguel Arroyo dari Binalbagan, Negros Occidental. Mereka pernah bertemu ketika ia masih remaja.[2] Mereka memperoleh tiga orang anak, yaitu Juan Miguel (lahir 1969), Evangelina Lourdes (lahir 1971), dan Diosdado Ignacio Jose Maria (lahir 1974). Ia melanjutkan pendidikannya dalam ilmu Ekonomi dan memperoleh gelar magister dari Universitas Ateneo de Manila (1978) dan meraih gelar Doktor juga dalam ilmu ekonomi dari Universitas Filipina (1985).[5] Dari 1977-1987, ia menjadi dosen di berbagai sekolah, yang menonjol adalah di Universitas Filipina dan Universitas Ateneo De Manila. Ia kemudian menjadi ketua Fakultas Ekonomi di Assumption College.
Pada tahun 1987, dia diajak bergabung oleh Presiden Corazon Aquino dalam pemerintahannya sebagai Asisten Sekretaris dari Departemen Perdagangan dan Industri. Ia dipromosikan sebagai Wakil Sekretaris dua tahun kemudian. Dalam kedudukannya yang lain sebagai Direktur Pelaksana Dewan Ekspor Garmen dan Tekstil, Arroyo menyaksikan pertumbuhan yang hebat dalam industri garmen pada 1980-an.

Senator
Meskipun ayahnya menjadi presiden Filipina, Arroyo tidak terjun ke politik hingga 1992, 27 tahun setelah ayahnya meninggalkan jabatannya. Ia terpilih menjadi anggota Senat Filipina pada 1992. Ia terpilih kembali pada 1995, dengan jumlah suara keseluruhannya hampir 16 juta. Inilah jumlah suara terbanyak yang diperoleh politikus manapun untuk posisi apapun dalam sejarah pemilu Filipina.[2] Sebagai wakil rakyat, Arroyo mengajukan lebih dari 400 RUU dan menyusun atau mensponsori 55 Undang-undang yang penting dalam ekonomi selama masa jabatannya seagai senator, termasuk UU Anti Pelecehan Seksual, UU Hak Penduduk Pribumi, dan UU Pengembangan Ekspor=CBIY/>

Menjadi wakil presiden
Pada 1998 Arroyo sempat mempertimbangkan pencalonan dirinya sebagai presiden, namun ia diyakinkan oleh Presiden Fidel V. Ramos untuk bergabung dengan Parati LAKAS yang memerintah sebagai pendamping kandidat presidennya, Ketua Parlemen Jose De Venecia. De Venecia dan Arroyo melakukan kampanye di seluruh negara, didukung oleh Ramos dan mesin LAKAS yang dahsyat. Arroyo menang sebagai wakil presiden dengan hampir 13 juta suara, lebih dari dua kali suara yang diperoleh lawan terdekatnya, Senator Edgardo Angara. Tetapi De Venecia dikalahkan oleh wakil presiden bertahan yang populer, Joseph Estrada.
Arroyo memulai masa jabatannya sebagai Wakil Presiden pada 30 Juni 1998. Tak lama kemudian ia ditunjuk oleh Estrada menjadi anggota kabinet dengan jabatan Menteri Kesejahteraan Sosial dan Pembangunan, dengan tugas utama mengawasi program-program sosial pemerintah untuk kaum miskin.
Ia mengundurkan diri dari Kabinet pada Oktober 2000, menjauhkan dirinya dari Presiden Estrada, yang dituduh korupsi oleh seorang bekas pendukung politiknya. Arroyo bergabung dengan masyarakat sipil dan banyak dari bangsa Filipina yang menyerukan agar presiden mengundurkan diri.

Ketua Mahkamah Agung Hilario Davide Jr memimpin upacara pengambilan sumpah Arroyo pada Revolusi Kekuatan Rakyat II. Kardinal Jaime Sin tampak di belakang

Pada 20 Januari 2001, setelah berhari-hari berlangsung gejolak politik dan protes di jalan-jalan raya, Mahkamah Agung menyatakan bahwa jabatan kepresidenan kosong. Militer dan polisi nasional yang sebelumnya menarik kesetiaannya kepada Estrada, kini mengalihkannya kepada Arroyo. Arroyo pun dilantik pada hari yang sama sebagai Presiden ke-14 Filipina oleh Ketua Mahkamah Agung Hilario Davide Jr dengan dukungan dari banyak pihak. Masa pemerintahannya diwarnai beberapa kali upaya pemberontakan–yang sering dikaitkan dengan orang-orang Estrada–untuk menjatuhkan pemerintahannya.
Penggulingan Estrada kelak dikenal sebagai EDSA II, mengikuti Revolusi EDSA 1986 yang menjatuhkan pemerintahan Ferdinand Marcos. EDSA adalah singkatan Epifanio de los Santos Avenue, sebuah jalan raya di kota metropolitan Manila yang merupakan tempat utama demonstrasi.

Menjadi presiden
Suksesi pada 2001
Naiknya Arroyo ke kursi kepresidenan pada Januari 2001 mempersatukan oposisi politik Filipina terhadap Joseph Estrada yang saat itu baru saja disingkirkan, yang dikenai tuduhan-tuduhan korupsi. Meskipun rakyat memperlihatkan dukungan dan mandat Arroyo diakui oleh Mahkamah Agung, Estrada dan semua kelompok oposisi mempertanyakan keabsahan Arroyo sebagai presiden.

Para demonstran yang jumlahnya hingga ribuan orang berbaris ke istana presiden pada 1 Mei dan menuntut Estrada, yang sebelumnya telah ditahan atas tuduhan korupsi dan merampok harta negara, dilepaskan dan dipulihkan kedudukannya. Para demonstran menolak ditenangkan, dan kekerasan pun terjadi. Arroyo menjawabnya dengan menangkapi para pengunjuk rasa dan pemimpin-pemimpin politik terkemuka. Arroyo akhirnya menghentikan para pemrotes dan bertahan dalam menghadapi tantangan serius pertama terhadap pemerintahannya, yang pertama di antara banyak lagi yang akan datang kelak.
Dukungan terhadap oposisi dan Estrada akhirnya merosot setelah kemenangan calon-calno yang didukung pemerintah dalam pemilihan antar-waktu yang diadakan belakangan pada bulan yang sama. Setelah bebas dari ancaman-ancaman dari pihak oposisi yang kini melemah, dan mendapat jaminan dukungan dari Majelis Tinggi dan Rendah dari Kongres, pemerintahan Arroyo mulai menghadapi tantangannya yang terbesar -- memperbaiki ekonomi negara itu yang terus bergumul dan pemerintahan yang korup.
Arroyo menguraikan visinya untuk Filipina sebagai "membangun sebuah republik yang kuat" sepanjang masa jabatannya. Agendanya terdiri dari upaya membangun birokrasi yang kuat, mengurangi tingkat kejahatan, meningkatkan pemungutan pajak, memperbaiki pertumbuhan ekonomi, dan mengintensifkan upaya-upaya melawan terorisme.

Ekonomi
Arroyo, seorang ekonom yang berpraktik, telah menjadikan ekonomi sebagai pusat kepresidenannya. Pertumbuhan ekonomi dalam arti Produk Domestik Bruto mencapai rata-rata 4,6% pada masa jabatannya sebagai presiden dari 2001 hingga akhir 2005. Ini lebih tinggi daripada yang dicapai beberapa presiden yang belakangan bila dibandingkan dengan 3,8% di bawah Aquino, 3,7% di bawah Ramos, dan 2,8% di bawah Joseph Estrada. Inflasi di bawah kepresidenan Arroyo juga telah mencapai tingkat terendah sejak 1986, rata-rata 5,3%.[6]
Pada akhir 2001, Arroyo menerapkan kebijakannya yang baru yang secara resmi disebut "Ekonomi Liburan". Di dalam kebijakannya ini, pemerintah akan menyesuaikan hari libur untuk menciptakan akhir minggu yang lebih panjang. (Misalnya: Bila 12 Juni — Hari Kemerdkeaan Filipina — jatuh pada hari Rabu, hari liburnya akan dipindahkan ke Jumat atau Senin untuk dikaitkan dengan akhir minggunya). Tujuan utama kebijakan ini adalah memperkuat ekonomi nasional melalui pariwisata dan perjalanan dan memberikan lebih banyak kesempatan bagi orang Filipna untuk melewatkan waktu bersama keluarganya. Ekonomi Liburan dimulai sebagai liburan 11 hari pada akhir 2001 dari 22 Desember 2001 hingga 1 Januari 2002. Libur yang panjang ini mengalienasikan banyak pengusaha, buruh, dan bahkan menimbulkan kritik dari para politikus. di antara sekutu-sekutunya yang menjadi kritis terhadap Ekonomi Liburan ini adalah bekas presiden Fidel V. Ramos, yang menyebutkan hilangnya produktivitas sebagai sesuatu yang penting, demikian pula kenyataan bahwa para buruh tidak mendapatkan penghasilan mereka. Kebijakan ini diberlakukan penuh pada 2002 meskipun para kritikus mengklaim bahwa hal itu tidak harus mematahkan tradisi-tradisi tertentu (Misalnya: Hari Buruh harus dirayahakan hanya pada 1 Mei. Para pengusaha sering mengeluh bahwa pemerintah selalu terlalu lamban dan terlambat dalam mengumumkan kapan hari libur akan jatuh. Hingga kini orang meminta agar sebuah jadwal liburan lengkap setahun dikeluarkan setahun sebelumnya sehingga kalender yang tepat dapat dicetak jauh-jauh hari.
Pada 4 Juli 2002, ia mengangkat seorang perwira polisi yang memiliki hubungan dengan kaum keturunan Tionghoa-Filipina sebagai kepala kepolisian nasional dan berjanji mengakhiri dalam waktu setahun wabah penculikan yang sering menjadikan warga keturunan Tionghoa sebagai korban. Ia juga mengumumkan mengambil tugas tambahan sebagai menteri luar negeri mulai 15 Juli 2002.

Gloria Macapagal-Arroyo bersama George W. Bush menginspeksi Pengawal Kehormatan Istana Malacañang dalam kunjungan kenegaraan Bush selama 8 jam di Filipina pada Oktober 2003

Pemberontakan Oakwood
Pada 30 Desember 2002 Arroyo mengumumkan di Baguio City bahwa ia tak akan mengikuti pemilu presiden tahun 2004, pada Desember 2002. Namun Arroyo berubah pikiran dan memutuskan untuk mendapatkan mandat enam tahun lagi. Dalam suatu pertemuan besar di provinsi kelahirannya Pampanga, Arroyo menyatakan bahwa ia telah memutuskan untuk "menunda pensiunnya," sambil mengutip permintaan para pendukungnya yang kian bertambah untuk bertarung dalam pemilu. Karena perubahan pikiran ini, popularitasnya menurun, tetapi hanya untuk sementara saja.
Pemilu 2004 dipandang sebagai kesempatan bagi Arroyo untuk memantapkan kredibiiltas pemerintahannya, yang dicemari oleh pertanyaan-pertanyaan tentang keabsahannya sejak naik takhtanya pada 2001. Arroyo melakukan kampanye yang sengit melawan kandidat oposisi, sahabat karib Joseph Estrada, sesama almarhum aktor film terkenal, Fernando Poe, Jr. Arroyo biasanya dipandang sebagai kelas berat intelektual, dibandingkand engan Poe, yang tidak selesai SMA. Para calon lainnya adalah bekas almarhum Senator dan Sekretaris Raul Roco, berkewajiban Senator Panfilo Lacson, dan penginjil Eduardo Villanueva.
Awalnya Arroyo tertinggal di belakang Poe dalam jajak-jajak pendapat menjelang masa kampanye, namun popularitasnya bangkit kembali dan mengalahkan Poe. Suksesnya ini tidak lepas dari mesin politiknya, Koalisi K4 yang didominasi oleh Partai Lakas-CMD. (Pada 2002 Arroyo mengambil kedudukan sebagai ketua Lakas bersama-sama denagn De Venecia). Pilihan pendampingnya, senator yang populer, Noli De Castro; dukungannya dari kelompok-kelompok keagamaan yang berpengaruh; dan dukungan provinsi-provinsi yang setia kepadanya seperti misalnya Cebu dan Pampanga.
Seperti yang telah diramalkan oleh jajak-jajak pendapat yang belakangan, ia memenangi pemilu presiden pada 2004, dengan perbedaan tipis satu juta suara dari saingan terdekatnya, Poe.
Muncul berbagai tuduhan dalam kampanye bahwa dana kampanyenya menggunakan uang pembayar pajak, ketika pemilu sedang berlangsung. Kemenangan Arroyo dicemari oleh tuduhan-tuduhan penipuan dari lawan-lawannya. Penyimpangan-penyimpangan kecil ditemukan pada masa pemilu, tetapi penipuan dan korupsi pada tingkat nasional seperti yang terjadi di dalam pemilu-pemilu nasional sebelumnya, tidak dapat dibuktikan oleh para penuduh presiden.

Arroyo diambil sumpah jabatannya di Cebu City pada 20 Juni 2004.

Kongres menyatakan Arroyo sebagai pemenang pemilu pada 24 Juni 2004, sebulan lebih setelah hari pemungutan suara. Hal ini membuatnya presiden keempat Filipina yang terpilih kembali selagi menjabat dan yang ketiga yang terpilih untuk masa jabatan kedua (Presiden Quirino dan Garcia, yang masing-masing terpilih pada 1949 dan 1957, Presiden Quezon dan Marcos terpilih kembali ke masa jabatan kedua masing-masing pada 1941 dan 1969).
Arroyo diambil sumpah jabatannya pada 30 Juni 2004, di Pulau Cebu. Ia adalah presiden Filipina pertama yang dilantik di kota itu. Ini dilakukan sebagai tanda terima kasih atas dukungan yang diberikan oleh rakyat Cebu pada masa pemilunya. Berbeda dengan tradisi, ia menyampaikan pidato pelantikannya di Manila sebelum berangkat ke Cebu untuk diambil sumpahnya.
Pada 10 Juni 2005, Samuel Ong, mantan wakil direktur Biro Penyelidik Nasional (National Bureau of Investigation), menuduh bahwa Arroyo telah berbuat curang dalam pemilu presiden 2004. Ong menyodorkan bukti berupa rekaman kaset pembicaraan antara Arroyo dengan anggota Komisi Pemilu. Pada 27 Juni, Arroyo mengaku telah berbicara dengan orang tersebut, namun menolak pendapat bahwa dia telah memengaruhi hasil pemilu. Kemudian pada 8 Juli, sepuluh menteri dalam kabinet Arroyo mengundurkan diri dan meminta agar Arroyo juga mengikuti jejak mereka. Seruan ini juga didukung Partai Liberal dan mantan presiden Corazon Aquino.
Pada 6 September, Arroyo berhasil lolos dari percobaan pemecatan yang diminta dua orang pengacara, Oliver Lozano dan Jose Rizaldo P. Lopez setelah kubu penggugat kekurangan jumlah tanda tangan yang diperlukan untuk mengajukan kasus mereka.

Benigno Aquino III
Benigno Simeon "Noynoy" Cojuangco Aquino III[1] (lahir 8 Februari 1960) adalah Presiden terpilih Filipina,[2] yang menang pada Pemilihan Presiden Filipina 2010 dengan 15.208.678 suara sah,[3]. Partai politiknya adalah Partai Liberal Filipina.[4] Dia adalah anggota Senat Filipina. Dia juga merupakan anak laki-laki satu-satunya dari mantan Presiden Filipina, Corazon Aquino dan mantan Senator Filipina Benigno Aquino, Jr.