Presiden Korea Selatan

Daftar Presiden Korea Selatan
Presiden Pemerintahan Sementara1
#              Nama yang diromanisasikan          Nama     Awal Jabatan      Akhir Jabatan     Partai politik
1              Rhee Syng-man   이승만   1919       1925
2              Park Eun-sik         박은식   1925       1925
3              Yi Sang-ryong      이상룡   1925       1926
4              Hong Jin2              홍진       1926       1926
5              Yi Dong-nyung
(Periode ke 1)       이동녕   1926       1926
6              Kim Gu
(Periode ke 1)       김구       1926       1927
Yi Dong-nyung
(Periode ke 2)       이동녕   1927       1933
7              Yang Gi-tak                          1933       1935
Yi Dong-nyung
(Periode ke 3)       이동녕   1935       1940
Kim Gu
(Periode ke 2)       김구       1940       1948

Ketua Umum Majelis Legislatif Sementara
#              Nama yang diromanisasikan          Nama     Awal Jabatan      Akhir Jabatan     Partai politik
1              Kim Kyu-sik         김규식   1946       1948
2              Rhee Syng-man   이승만   1948       1948

Presiden Republik Korea# Nama yang diromanisasikan
Nama     Awal Jabatan      Akhir Jabatan     Partai politik       Era
1              Rhee Syng-man   이승만   20 Juli 1948          26 April 1960       Partai Demokrat Korea
Partai Nasional
Partai Liberal        Republik Pertama
2              Yun Bo-seon        윤보선   13 Agustus 1960  22 Maret 1962     Partai Demokrat
Partai Demokrat Baru        Republik Kedua
3              Park Chung-hee   박정희   17 Desember 1963              26 Oktober 1979 Partai Republik Demokrat Republik Ketiga
Republik Keempat
4              Choi Kyu-ha        최규하   8 Desember 1979                16 Agustus 1980  Independen
5              Chun Doo-hwan  전두환   1 September 1980               24 Februari 1988 Partai Republik Demokrat
Partai Keadilan Demokrat
Republik Kelima
6              Roh Tae-woo       노태우   25 Februari 1988 24 Februari 1993 Partai Keadilan Demokrat
Partai Liberal Demokrat    Republik Keenam
7              Kim Young-sam  김영삼   25 Februari 1993 24 Februari 1998 Partai Liberal Demokrat
Partai Korea Baru
Partai Nasional Agung
8              Kim Dae-jung      김대중   25 Februari 1998 24 Februari 2003 Partai Kongres Nasional
Partai Demokrat Milenium Baru
9              Roh Moo-hyun3  노무현   25 Februari 2003 24 Februari 2008 Partai Demokratik Milenium
Partai Kami Buka
Partai Demokrat Bersatu Baru
Partai Demokrat Bersatu
Partai Demokrat
10           Lee Myung-bak   이명박   25 Februari 2008 kini         Partai Nasional Agung

Catatan
Pemerintah Sementara Republik Korea adalah pemerintahan dalam pengasingan yang berpusat di Shanghai, Tiongkok. Meskipun pemerintah Korea Selatan yang saat ini menyatakan bahwa mereka merupakan penerus pemerintahan tersebut untuk memperkuat legitimasinya, pemerintahan tersebut tidak diakui dalam dunia internasional.
Hong Jin juga dikenal sebagai Hong Myun-hui (홍면희).
Dari 12 Maret hingga 14 Mei 2004, Perdana Menteri Goh Kun (고건) adalah presiden sementara)

Syngman Rhee
Syngman Rhee atau Yi Seungman (lahir di Haeju, Hwanghae, Korea, 26 Maret 1875 – meninggal di Honolulu, Hawaii, Amerika Serikat, 19 Juli 1965 pada umur 90 tahun) adalah seorang presiden pertama Korea Selatan. Karier kepresidenannya yang dimulai dari bulan Agustus 1948 sampai April 1960, dianggap kontroversial akibat sifat anti-komunis dan tangan besinya yang menyulut terjadinya Perang Korea. Syngman Rhee meninggal dalam pengasingan di Hawaii, setelah kariernya berakhir akibat protes masyarakat dalam pemilihan umum yang dianggap curang.

Masa kecil
Syngman Rhee dilahirkan di Provinsi Hwanghae dari ayah bernama Yi Gyeong-seon, seorang anggota keluarga bangsawan (Yangban)[2]. Rhee adalah keturunan dari Pangeran Yangnyeong (Yi Je), yang merupakan anak sulung dari Raja Taejong[3][4]. Ia mengikuti pendidikan di Pai Chai Hak Dang namun segera menjadi aktif di Korea dalam perjuangan melawan penjajahan Jepang. Ia ditangkap di 1897 karena melakukan demonstrasi melawan kolonialisme Jepang, yang kemudian dilepaskan tahun 1904 dan pergi ke Amerika Serikat. Dia mendapat beberapa gelar (termasuk AB dari George Washington University dan gelar Ph.D dari Universitas Princeton) dan menjadi kebarat-baratan sehingga ia mulai menulis namanya dalam cara barat, dengan nama kecil di depan nama keluarga.

Karier kepresidenan
Pada 1910, dia kembali ke Korea, yang saat ini masih dalam masa kolonial Jepang. Aktivitas politiknya tak disukai militer Jepang dan ia pergi ke Tiongkok pada tahun 1912. Pada 1919, semua faksi utama pro-kemerdekaan membentuk Pemerintahan Sementara (Pemerintahan Provisional) di Shanghai. Rhee terpilih menjadi presiden, ia memimpin selama enam tahun, sampai tahun 1925 ketika dia didakwa oleh Majelis Pemerintahan Sementara karena melakukan penyalahgunaan otoritas.

Syngman Rhee menghadiahkan medali pada Laksamana Ralph A. Ofstie dari Angkatan Laut AS pada masa Perang Korea tahun 1952.

Setelah Korea merdeka dari Jepang, Rhee kembali ke Seoul mendahului para pejuang kemerdekaan lain, sebab hanya ia yang paling dikenal dekat dengan Sekutu. Pada 1945, ia terpilih sebagai kepala pemerintah Korea.
Dalam masa kekuasaannya, secara diam-diam, Rhee melakukan kampanye untuk "menghapus Komunisme" yang sebenarnya adalah rencana untuk menyingkirkan semua potensi oposisi.
Rhee memenangkan kursi Majelis Pertama Korea Selatan pada 10 Mei 1948 oleh pemilihan parlemen setelah partai sayap kiri memboikot pemilu. Setelah terpilih sebagai Pembicara dari Majelis Konstituante pada 31 Mei, Rhee terpilih sebagai presiden pertama Korea Selatan, mengalahkan Kim Koo, Presiden terakhir dari Pemerintahan Sementara dengan hitungan 182-13 pada tanggal 20 Juli 1948. Perlu dicatat bahwa Kim Koo tidak menyadari pencalonannya sebagai presiden; nominasi ini adalah upaya untuk mendiskreditkannya yang merupakan nasionalis.
Pada tanggal 15 Agustus 1948, ia secara resmi mengambil alih kekuasaan militer Amerika Serikat dan kedaulatan de jure atas rakyat Korea dari Pemerintahan Provisional.
Sebagai presiden, Rhee dikenal memerintah dengan kekuasaan kediktatoran bahkan sebelum Perang Korea di tahun 1950. Ia mememerintahkan tentara sekuritas internalnya (dikepalai tangan kanannya, Kim Chang-ryong) untuk menangkap dan menyiksa agen yang diduga komunis dari Korea Utara. Pemerintahannya juga pernah melakukan beberapa pembantaian, yang paling besar salah satunya adalah Pembantaian Pulau Jeju dikarenakan pemberontakan oleh golongan sayap kiri. Rhee lebih jauh merusak reputasinya dengan memerintahkan warga kota Seoul untuk tetap tinggal di kota, sementara dia sendiri mengungsi ketika perang terjadi. Keputusannya memotong jembatan di Sungai Han menyebabkan ribuan masyarakat kota tidak bisa lolos dari serbuan pihak komunis. PBB dan Korea Selatan kembali berperang dan mendorong tentara Korea Utara menyingkir ke arah utara Sungai Yalu (lalu mundur ke sekitar DMZ karena Cina membantu Korea Utara melakukan serangan balasan). Sementara, Rhee mulai tidak disukai para pengikutnya karena menolak untuk menyetujui gencatan senjata dalam perang yang menyebabkan terbaginya Korea. Berharap untuk menjadi pemimpin Korea yang bersatu, dengan bantuan PBB, ia memveto setiap rencana perdamaian yang ternyata gagal untuk merangkul pemerintahan Korea Utara. Ia juga memulai usaha anti-Cina dan sering menyatakan kekecewaannya pada AS yang enggan untuk berkonfrontasi dengan Cina.
Setelah Perang Korea dan akhir rezimnya, dia merumahkan janda permaisuri Ratu Yun dari Kaisar Sunjeong (dari Kekaisaran Korea) di Bangunan Suin, sebuah rumah kecil dan tidak pantas di Jeongneung, Seoul karena takut akan kekuasaan Ratu yang masih dihormati sebagian besar rakyat Korea, dan ia juga berusaha mengklaim bahwa ia masih berhubungan darah dengan keluarga kerajaan Yi.

Jenderal Douglas MacArthur dan Dr Syngman Rhee pada sebuah kegiatan Upacara, 1948 ( foto history.army.mil )

Akhir jabatan
Pada 1960, Rhee kembali menduduki kursi presiden yang keempat dengan memenangkan 90% suara. Kemenangan besar ini terjadi setelah calon presiden dari partai oposisi utama, Cho Byeong-ok, tiba-tiba meninggal dunia sebelum Pilpres tanggal 15 Maret .
Namun demikian Rhee memutuskan untuk menunjuk anak didiknya, Lee Gibung sebagai Wakil Presiden independen - bagian pemerintahan yang terpisah pada waktu itu.
Tetapi ketika Lee, yang bersaing dengan Chang Myon, mantan duta besar Amerika Serikat selama Perang Korea, memenangkan pemilihan wapres dengan suara yang terlalu besar, pihak oposisi mencurigai telah terjadinya kecurangan. Hal ini memicu kemarahan dari berbagai kalangan rakyat Korea. Massa melakukan demonstrasi untuk menuntut Rhee mundur pada tanggal 26 April 1960, namun mereka ditembaki oleh militer.
Pada hari yang sama, masyarakat dikejutkan dengan insiden pembunuhan sekeluarga Wapres terpilih Lee Gibung oleh putra keduanya (juga putra adopsi Rhee).
Pada tanggal 28 April 1960, DP-4 milik Central Intelligence Agency Amerika Serikat - yang dioperasikan oleh Civil Air Transport - mengungsikan Rhee dari Korea setelah demonstran menduduki istana presiden, Blue House. Kemudian diungkapkan oleh Kim Yong Kap, Deputi Menteri Keuangan, bahwa pada masa rezimnya Rhee telah menggelapkan lebih dari $ 20 juta dana pemerintah. Mantan Presiden Rhee, istrinya Franziska Donner (berasal dari Austria), dan anak adopsinya tinggal dalam pengasingan di Honolulu, Hawaii.
Pada tanggal 19 Juli 1965, Rhee meninggal dunia di Hawaii akibat stroke. Jasadnya dikembalikan ke Korea dan dimakamkan di Pemakaman Nasional di Seoul pada tanggal 27 Juli tahun yang sama.

Warisan
Rezim Rhee dianggap sangat kontroversial. Secara umum, di kalangan konservatif menganggap Rhee sebagai pahlawan bangsa, sedangkan kaum liberal cenderung kritis terhadapnya.
Kediaman Rhee di Ihwajang, Seoul, saat ini digunakan sebagai museum memorial presiden , dan Woo-Nam Presidential Preservation Foundation juga didirikan untuk memberikan pengormatan baginya.

Yun Po Sun
Yun Bo-seon lahir di Asan, Chungcheong Selatan, Chosun, 26 Agustus 1897 – meninggal 18 Juli 1990 pada umur 92 tahun) adalah mantan politisi dan Presiden Republik Korea Selatan ke-4.

Park Chung Hee
Park Chung-hee lahir di Gumi-si, Gyeongsang Utara, Jepang-Berkuasa di Korea (kini Korea Selatan, 30 September 1917 – meninggal di Seoul, Korea Selatan, 26 Oktober 1979 pada umur 62 tahun) adalah mantan jenderal Tentara ROK dan pimpinan Republik Korea pada periode 1961-1979.

Ia dianggap berjasa melakukan modernisasi Korea Selatan melalui industrialisasi berorientasi ekspor, tapi juga dituduh melakukan pelanggaran hak asasi manusia pada periode tambahan kepresidenannya.

Ia dipilih sebagai salah satu dari "100 Orang Asia Abad Ini" ("100 Asians of the Century") oleh Time Magazine pada 1999. Ia pernah lolos dari beberapa percobaan pembunuhan sampai akhirnya terbunuh pada 26 Oktober 1979 oleh Kim Jae-kyu, direktur KCIA dan teman lamanya.

Pada tanggal 15 Agustus 1974, dalam satu percobaan pembunuhan yang menewaskan istrinya, Yuk Yeong-su, oleh agen Korea Utara, Mun Se-gwang, ia meneruskan pidatonya tanpa memperdulikan kondisi istrinya yang kritis.

Choi Kyu-ha
Choi Kyu-ha lahir di Wonju, Gangwon, Korea Selatan, 16 Juli 1919 – meninggal di Mapo-gu, Seoul, Korea Selatan, 22 Oktober 2006 pada umur 87 tahun) adalah presiden Republik Korea Selatan yang berkuasa dari tahun 1979 - 1980. Ia lahir di Wonju, Propinsi Gangwon. Ia menjabat tugas sebagai Menteri Luar Neger Korea Selatan dari tahun 1967 - 1971 dan sebagai Perdana Menteri dari tahun 1967 - 1979.

Chun Doo-hwan
Chun pada tahun 1985.
Chun Doo-hwan lahir di Hapcheon, Gyeongsang Selatan, Korea Selatan, 18 Januari 1931; umur 81 tahun) adalah mantan Jenderal dan presiden Republik Korea Selatan. Ia berkuasa dari tahun 1980 sampai 1988. Chun sebenarnya akan dihukum mati pada tahun 1996 karena dituduh menyebabkan terjadinya Insiden Gwangju, namun ia dimaafkan atas kesalahannya oleh Presiden Kim Young-sam dengan saran dari presiden terpilih Kim Dae-jung.

Roh Tae-woo
Roh Tae-woo lahir di Daegu, 4 Desember 1932) adalah politisi, jenderal dan Presiden Korea Selatan yang ke-13.

Kim Young-sam
Kim Young-sam lahir di Geoje, Gyeongsang Selatan, 20 Desember 1927; umur 84 tahun) adalah Presiden Korea Selatan pada periode 25 Februari 1993-25 Februari 1998.

Permulaan hidup
Kim menempuh pendidikan di Universitas Nasional Seoul pada 1952 dengan menyandang gelar B.A. untuk bidang filsafat.

Ia menjabat di angkatan bersenjata Republik Korea Selatan selama terjadi Perang Korea. Pada 1954, ia terpilih di Parlemen Nasional Korea Selatan.

Ia tampil kesembilan utusan distrik Geoje dan Busan.

Kehidupan pribadi
Kim adalah anggota Gereja Presbiterian Chunghyun [1].

Kim Dae-Jung
Kim Dae-jung lahir di Haui-do,(kini Jeolla Selatan), Korea Selatan, 3 Desember 1925 – meninggal di Seoul,Korea Selatan, 18 Agustus 2009 pada umur 83 tahun) Templat:Pelafalan adalah mantan presiden Korea Selatan dan peraih Hadiah Nobel Perdamaian pada tahun 2000. Ia menjadi orang pertama Korea yang menerima penghargaan itu.[1] Penganut Katolik Roma sejak 1957 ini dijuluki sebagai "Nelson Mandela"-nya Asia[2] dan seorang tokoh oposisi demokrasi saat pemerintahan diktatur militer. Kim Dae Jung menjabat sebagai Presiden (menggantikan Kim Young-sam) pada periode 1998-2003.

Masa kecil
Ia lahir di Haui-do, Jeollanam-do, sebuah kepulauan di wilayah Korea Selatan. Ia lahir dari pasangan petani kaya dari pulau Haui-do (baratdaya lepas pantai Semenanjung Korea) dan pedagang. Ia sempat menggeluti bisnis perkapalan sebagai Presiden Direktur Dae Yang Shipbuilding.

Karier politik
Semenjak munculnya ke panggung politik pada tahun 1954, ia dikenal sebagai seorang politikus yang selalu lolos dari percobaan pembunuhan, penculikan, dan hukuman mati. Ia pernah menjadi akuntan pada sebuah penerbitan surat kabar dan mulai tampil di panggung politik sejak tahun 1961 dengan menjadi anggota parlemen dan lulus Universitas Korea bidang bisnis pada tahun 1964. Ia memutuskan terjun ke politik setelah kudeta militer pada 16 Mei 1961 terhadap Perdana Menteri John M. Chang. Kudeta itu menghantar Panglima Divisi II Angkatan Darat Mayjen Park Chung-hee berkuasa. Tahun 1975, ia dijatuhi hukuman penjara lima tahun karena menentang Yushin dan dibebaskan pada tahun 1978. Kurun waktu pemerintahan Jenderal Park Chung-hee dan Kim Jong-pil yang menjabat perdana menteri (1971-1973) seperti menjadi periode kelabu baginya. Sebagai aktivis gerakan pro-demokrasi dan anti-militerisme, ia dianggap sebagai penghambat atau penghalang karena potensinya dalam mengancam stabilitas kekuasaan pemerintah yang sangat berkepentingan menjaga status quo. Ia pun dicap sebagai "musuh negara". Tahun 1971, ia mendapat ancaman teror. Operasi intelijen dimatangkan mengingat Park Chung-hee nyaris terkalahkan saat perebutan kursi presiden pada pemilu tahun itu. Jalan lapang yang tinggal selangkah pun hilang karena ditelikung oleh Park Chung-hee dan Kim Jong-pil lewat sebuah kecelakaan mobil di jalan raya. Kakinya sedikit pincang dan menjadi terlalu sedikit berekspresi. Ia akan dihabisi oleh saingan politiknya. Kejadian tersebut bukan membentuk langkah mundur, tetapi justru semakin bersemangat. Ia bahkan menjadi seorang yang keras mengecam pemerintahan militer, sehingga teror pun semakin kuat terhadap dirinya. Tahun 1973, saat berada di dalam kamar sebuah hotel di Tokyo (Jepang) ia diculik oleh agen inteligen KCIA. Ia diculik serta diikat pada sebilah papan perahu motor dan perahunya diapungkan ke lautan lepas. Rencananya ia akan ditenggelamkan hidup-hidup. Tetapi, ia masih terselamatkan oleh sebuah helikopter yang melintas di atasnya dan menolongnya.
Semakin lantang bersuara, semakin kuat ia mendapatkan teror. Gara-gara menandatangani deklarasi Perjuangan Mengembalikan Demokrasi Nasional, ia ditangkap dan dijatuhi hukuman penjara (1976) atas tuduhan menggalang aktivis anti-pemerintah. Dua tahun ia meringkuk di penjara. Peristiwa Kwangju berdarah pada tahun 1979 yang ditandai dengan pendudukan massa selama sepuluh hari atas sejumlah markas militer dan berakhir dengan tewasnya sekitar 200 orang serta penangkapan sedikitnya 30.000 tersangka oleh militer pada 27 Mei 1980 menjadikannya ditangkap. Palu hukuman mati dijatuhkan pada tahun 1979 atas tuduhan hendak menjatuhkan pemerintahan militer. Oleh gencarnya tekanan politik mahasiswa pendukung pro-demokrasi dan protes masyarakat internasional, akhirnya memaksa Presiden Chun Doo-hwan mengalihkan hukumannya menjadi seumur hidup (1981). Ia ditahan pemerintah militer di Cholla dan dibebaskan melalui surat amnesti umum tahun 1982. Karena masih dianggap potensial mengancam pemerintah, Chun Doo-hwan mengharuskannya pergi ke Amerika Serikat pada tahun 1982.

Korea Utara Kim Jong Il utama (kiri) dan Presiden Korea Selatan Kim Dae Jung (kanan) bertemu di Pyongyang, Korea Utara, pada bulan Juni 2000. kids.britannica.com

Alasannya agar berobat akibat gangguan saraf karena kecelakaan mobil. Selama dua tahun tinggal di Washington, ia mendirikan The Korean Institute for Human Rights. Ia kembali ke Korea Selatan pada tahun 1985. Begitu mendarat di Seoul, ia dihadang petugas dan langsung dikenai hukuman tahanan rumah hingga Februari 1986. Semangat cinta demokrasi, berwatak jujur, dan menjunjung keadilan sangat mewarnai perjalanan hidup dan karier politiknya. Latar belakang keluarganya yang penganut Katolik tentu tak mengherankan jika itu dipraktekkan sungguh-sungguh. Dari ayahnya, ia menyerap citra rasa tinggi pada nilai seni, sedang ibunya banyak memberikan wejangan sekaligus teladan hidup yang sarat nilai moral dan sosial. Proses internalisasi (pembatinan) nilai-nilai moral berjalan mulus seiring dengan seringnya menyaksikan teladan nyata kedua orang tua yang tanpa henti mempraktekkan "prinsip demokrasi" dalam keluarga dan menumbuhkan semangat pengampunan. Semangat cinta demokrasi, kebenaran, dan keadilan itu pula yang menjadikan rakyat Korea Selatan tak pernah bosan menyaksikan kiprah politisi yang dijuluki Indongcho (Si Rambut Teki) yang tahan banting. Meskipun pada pemilu presiden 1971, 1987, dan 1992, ia gagal merebut kursi presiden sepanjang karier politiknya selama 43 tahun. Pesona dan kharismanya tetap memancar kuat. Ia pun kemudian menang dalam pemilu presiden Desember 1997 saat mengalahkan Lee Hoi-chang dari Partai Besar Nasional dan Rhee In-je dari Partai Rakyat Baru. Berakhirnya kekuasaan Presiden Kim Young-sam selintas menandakan pupusnya dominasi militer yang runtuh akibat krisis moneter.

Krisis Ekonomi Tahun 1997
Awal tahun 1998, Kim Dae-jung dilantik sebagai Presiden Korea Selatan. Pelantikannya ditandai dengan pemukulan bel raksasa Poshin-gak yang pernah diperdengarkan ketika Korea Selatan menyatakan kemerdekaan dari Jepang. Ia pun menjadi presiden pertama dari kelompok oposisi. Upacara pengambilan sumpah dihadiri 38.000 orang di sebuah plaza di depan Majelis Nasional dan ribuan lain di luar plaza.
Setelah bantuan IMF (Dana Moneter Internasional) diterima, ia melancarkan serangkaian pembaruan. Meskipun terjadi bentrokan dan pertengkaran di antara sesama warga, semuanya tidak menyurutkan niat untuk bersama-sama mengatasi krsis dengan cara menyumbang emas untuk negara. Lima chaebol terbesar yaitu Hyundai, Samsung, Daewoo, LG, dan Sungkyong menjadi teladan dalam melakukan restrukturisasi dan liberalisasi. Ada penghargaan para pejabat tinggi dan warga pada hukum, demokrasi, tradisi, dan kerja keras.
Ada kompromi antara kaum buruh dan chaebol. Pemerintah mematok penanaman modal asing senilai US$ 15 milyar dan US$ 20 milyar hingga tahun 2002, sehingga mengalami pertumbuhan tingkat ekonomi sebesar 7% yang melampau perkiraan (2-3%). Tingkat bunga yang membubung sampai 30% tinggal 8% saja. Mata uang won stabil, cadangan devisa bertambah, dan negara mulai membayar pinjaman IMF sebesar US$ 3,8 milyar.
Pengangguran berhasil diturunkan, dari 6,8% pada tahun 1998 menjadi sekitar 4,4% pada akhir tahun 1999. Ia juga mengampuni Chun Doo-hwan (presiden periode 1980-1988) dan Roh Tae-woo (presiden periode 1988-1993) yang terbukti bersalah selama menjabat. Atas prakarsanya memperdamaikan negaranya dengan Korea Utara, ia pun menerima Nobel Perdamaian 2000 bersama Pemimpin Korea Utara Kim Jong-il.

Roh Moo-hyun
Roh Moo-hyun (lahir di Gimhae, Gyeongsang Selatan, Korea Selatan, 1 September 1946 – meninggal di Yangsan, Gyeongsang Selatan, Korea Selatan, 23 Mei 2009 pada umur 62 tahun) adalah Presiden Korea Selatan ke-16. Ia menjabat sejak 25 Februari 2003 sampai 24 Februari 2008. Sebelum terjun di dunia politik, Roh adalah seorang pengacara HAM.
Karier politiknya diwarnai upaya-upaya untuk mengatasi regionalisme dalam dunia politik Korea Selatan, sebelum kemudian akhirnya ia dilantik menjadi presiden. Lawan-lawan politiknya mencoba untuk memecatnya melalui impeachment pada tahun 2004, namun gagal. Setelah peristiwa tersebut ia kembali menjabat dengan mandat yang lebih kuat dibandingkan dengan saat ia baru menjadi presiden, namun sejak saat itu popularitasnya telah menunjukkan penurunan.
Antara kebijakan yang diambilnya sebagai presiden adalah pengiriman tentara Korea ke Irak, upayanya yang gagal untuk memindahkan ibu kota korea Selatan dari Seoul ke Chungcheong, dan keinginannya untuk membentuk sebuah koalisi besar dengan Partai Nasional Utama yang dikritik dengan luas. Ketidakpopuleran Roh diperparah dengan kebijakan perjanjian atas Korea Selatan, yang menarik kontroversi pada berbagai peristiwa seputar uji peluru dan nuklirnya.
Roh Moo-Hyun meninggal dalam usia 62 tahun setelah terjun bebas dari jurang pegunungan di belakang rumahnya di desa Bongha. Ia menderita cedera kepala berat dan dikirim ke rumah sakit di Busan sekitar pukul 8:15 a.m. (23:15 GMT) dan dinyatakan meninggal sekitar pukul 9:30 a.m. (00:30 GMT). Menurut pengacaranya, Roh meninggalkan catatan yang mengatakan bahwa hidupnya "sulit" dan meminta maaf telah "membuat banyak orang menderita". Kepolisian KorSel kemudian menegaskan kematian Roh.

Lee Myung-bak
Lee Myung-bak (lahir di Osaka, Jepang, 19 Desember 1946) adalah Presiden Korea Selatan sejak 25 Februari 2008. Sebelumnya, ia menjabat walikota Seoul. Ia adalah anggota Partai Besar Nasional (Grand National Party). Sebagai walikota Seoul, ia dikenal dengan kebijakan-kebijakan kontroversialnya seperti restorasi Cheonggyecheon, ia ingin sekali menjadi pemimpin seperti Muammar al-Qaddafi yang rela berkorban demi rakyat yang tertindas.