Presiden Lebanon

Daftar Presiden Lebanon
Sebelum kemerdekaan
No       Nama   Awal Jabatan  Akhir Jabatan
1              Charles Debbas                    1 September 1926               2 Januari 1934
2              Antoine Privat-Aubouard(Sementara) 2 Januari 1934                30 Januari 1934
3              Habib Pacha Es-Saad        30 Januari 1934   20 Januari 1936
4              Emile Edde                           20 Januari 1936   4 April 1941
5              Pierre-Georges Arlabosse (Sementara)            4 April 1941          9 April 1941
6              Alfred Georges Naqqache  9 April 1941          18 Maret 1943
7              Ayub Thabit (Sementara)  19 Maret 1943     21 Juli 1943
8              Petro Trad                             22 Juli 1943          30 September 1943

Setelah kemerdekaan
No       Nama   Awal Jabatan  Akhir Jabatan
1              Bechara El Khoury             21 September 1943             11 November 1943
2              Emile Edde                           11 November 1943             22 November 1943
                Bechara El Khoury             22 November 1943             18 September 1952
3              Fuad Chehab (Sementara)                18 September 1952             22 September 1952
4              Camille Chamoun               23 September 1952             22 September 1958
                Fuad Chehab                       23 September 1958             22 September 1964
5              Charles Helou                      23 September 1964             22 September 1970
6              Suleiman Frangieh              23 September 1970             22 September 1976
7              Elias Sarkis                           23 September 1976             22 Agustus 1982
8              Bachir Gemayel                   23 Agustus 1982                  14 September 1982
9              Amine Gemayel                   23 September 1982             22 September 1988
10           Michel Aoun (Sementara) 22 September 1988             13 Oktober 1989
11           René Moawad                     5 November 1989               22 November 1989
12           Elias Hrawi                           24 November 1989             24 November 1998
13           Émile Lahoud                      24 November 1998             23 November 2007
14           Michel Suleiman                  25 Mei 2008                         Sekarang
========================================
Émile Lahoud
Jenderal Émile Geamil Lahoud (Arab: اميل لحود, Armenia: Իմիլ Լահուտ; lahir 12 Januari 1936) adalah mantan Presiden Lebanon. Ia adalah anak Jenderal Jamil Lahoud, seorang pimpinan perjuangan kemerdekaan. Ibunya seorang Armenian dari wilayah Kasab (Suriah). Sebelum terpilih tahun 1998, ia adalah Kepala Staf Angkatan Bersenjata. Sebagai pemimpin di negara, ia juga pemimpin angkatan bersenjatan Lebanon. Dialah pejabat di negara Arab yang beragama Kristen. Lahoud bertugas di bawah Jenderal Michel Aoun pada tahun-tahun akhir dari Perang Saudara Lebanon (1975-1990). Setelah diberlakukannya gencatan senjata yang ditengahi oleh Liga Arab, Lahoud menyebrang ke Beirut barat yang dikuasai oleh Suriah. Seorang perwira militer Maronit dibutuhkan untuk mengambil alih posisi komandan AD untuk Beirut Barat. Lahoud ditawari posisi tersebut berdasarkan pemerintahan Lebanon yang disetujui oleh Perjanjian Taif 1989. Menurut satu sumber, Lahoud memiliki hubungan dengan pejabat AD Suriah yang sangat berpengaruh, Ali Hammoud, yang merekomendasikan dirinya untuk tugas tersebut yang diterimanya dengan cepat. Dia bertugas dalam banyak pos di militer, termasuk panglima AD dari 1989 sampai 1998, dan kemudian mencalonkan diri sebagai presiden pada 1998, setelah konstitusi diubah untuk memungkinkan panglima AD mencalonkan diri hanya setelah tiga tahun menjabat posisi tersebut. Menurut konstitusi Lebanon, masa jabatan Presiden dibatasi hanya satu kali enam tahun. Namun, di bawah tekanan dari Suriah, pada 2004 parlemen menyetujui untuk memperpanjang masa jabatannya tiga tahun lagi, hingga 2007 (hal yang sama terjadi dengan pendahulunya Elias Hrawi). Tokoh-tokoh oposisi dan para kritikus internasional mengklaim bahwa perpanjangan itu tidak sah karena konstitusi diamanedemen di bawah tekanan dari luar negeri.

foto AFP.
----------
Popularitas Lahoud belakangan ini menurun, khususnya di antara orang-orang Kristen, Druze, dan Islam Sunni. Kardinal Katolik Lebanon Nasrallah Sfeir dan pemimpin Druze Walid Jumblatt merupakan kritikusnya yang vokal. Bekas perdana menteri Rafik Hariri, seorang Muslim Sunni yang meninggal karena pembunuhan politik, yang telah bekerja selama bertahun-tahun di bawah dukungan Suriah, berbenturan dengan Damaskus dalam soal perpanjangan masa jabatan Lahoud, dan karenanya ia mengundurkan diri. Tokoh-tokoh ini memandang Lahoud sebagai boneka yang dikendalikan oleh Suriah. Pada Agustus 2004, Jumlatt mengatakan bahwa Hariri mengakui kepadanya bahwa ia diancam oleh presiden Suriah Bashar al-Assad, yang berkata kepada Hariri, "Lahoud adalah aku. ... Bila kau dan Chirac mau aku keluar dari Lebanon, aku akan hancurkan Lebanon." [huruf miring ditambahkan] "Ketika saya mendengar kata-katanya itu, saya tahu bahwa itu berarti hukuman mati untuknya," kata Jumblatt. Lahoud terkenal di antara sejumlah orang Lebanon karena biasa berleha-leha sepanjang sore di kolam renang klub mewah Yarze, sambil membaca majalah Paris Match dan memegangi sebuah cermin untuk membuat kulitnya terbakar matahari. Laporan-laporan berita yang mengatakan bahwa ia berenang sementara Hariri dikebumikan menimbulkan dampak yang demikian hebat sehingga ia terpaksa harus mengeluarkan bantahannya. "Saya berenang setiap hari—inilah caranya saya berolahraga—tapi khusus pada hari itu, saya tidak berenang," katanya kepada sekumpulan anggota Dewan Persatuan Jurnalis. Banyak orang Lebanon yang menjuluki Lahoud "la vache qui rit" -- "sapi tertawa". Sebagian kritikus yakin bahwa salah satu alasan utama masa jabatan Lahoud diperpanjang ialah karena keluarganya telah menjalin hubungan bisnis yang erat dengan klan al-Assad di Damaskus. Lahoud juga telah dituduh karena tidak berbobot dan bertindak hanya sebagai pion Suriah yang merugikan lembaga-lembaga Lebanon dengan mendukung pelanggaran oleh badan-badan polisi rahasia yang mirip dengan yang menjalankan pemerintahan Suriah: peranan intelijen bukan lagi mengusahakan keamanan, melainkan memasang agen-agen, menyadap percakapan telepon, menyebarkan artikel-artikel koran, mengancam para hakim, mengikat para menteri dan mengepung anggota-anggota parlemen. Lahoud menyangkal keras tuduhan-tuduhan ini. Lahoud dengan sekitar 18 menteri yang pro-Suriah konon telah menentang sejumlah proyek Hariri, dari hal-hal kecil seperti membeli tanah untuk sekolah-sekolah baru untuk pembaruan ekonomi. Dalam sebuah pertemuan tahun 2002 yang terdiri atas donor-donor internasional di Paris, Presiden Chirac dari Prancis dan Hariri berhasil mendapatkan jaminan lebih dari AS$14 milyar dana bantuan untuk Lebanon, yang terperangkap utang yang sangat besar. Bantuan itu akan diberikan dengan syarat Lebanon melakukan pembaruan-pembaruan ekonomi. Lahoud dituduh telah menghalang-halangi pembaruan.
=======================================
Michel Suleiman
Jenderal Michel Suleiman (bahasa Arab:ميشال سليمان) (lahir di Amsheet, Lebanon, 21 November 1948) adalah presiden Lebanon saat ini. Sebelum menjabat sebagai presiden, ia memegang jabatan sebagai Panglima Angkatan Bersenjata Lebanon. Setelah panglima ABL Émile Lahoud menjabat sebagai presiden pada November 1998, Suleiman menggantikannya sebagai panglima angkatan darat dari Desember pada tahun yang sama. Jabatan panglima ABL dikhususkan untuk seorang Katolik Maronit. Suleiman kemudian terpilih sebagai presiden dan diambil sumpahnya pada 25 Mei 2008.[2]

Masa muda, pendidikan dan keluarga
Suleiman dilahirkan di Amsheet. Ia bergabung dengan Angkatan Bersenjata Lebanon pada 1967 dan lulus dari Akademi Militer dengan pangkat Letnan Dua pada 1970.[3] Jenderal Suleiman memegang gelar Bachelor of Arts dalam Ilmu Politik dan Administrasi Negara dari Universitas Lebanon. Ia menikah dengan Wafaa Suleiman dan mempunyai tiga orang anak. Ia fasih berbahasa Perancis dan Inggris.

Karier militer
Semasa dinas militernya, ia memperoleh kenaikan pangkat dari pemimpin pleton infanteri hingga menjadi komandan batalyon, dan kemudian menjabat sebagai pelatih di Akademi Militer dan di Sekolah Perwira Reguler. Dari 4 Desember 1990 hingga 24 Agustus 1991 ia diangkat menjadi Kepala Cabang Intelijen di Gunung Lebanon. Pada 25 Agustus 1991, ia dipindahkan ke jabatan Sekretaris Jenderal Staf Angkatan Darat hingga 10 Juni 1993. Ia menjabat sebagai Komandan Brigade Infanteri ke-11 dari 6 Juni 1993 hingga 15 Juni 1996, dan pada saat itu terjadilah konfrontasi berdarah dengan tentara Israel di daerah Lembah Beqaa barat dan Lebanon Selatan. Pada 15 Januari 1996 ia diangkat menjadi Komandan Brigade Infanteri ke-6 hingga 21 Desember 1998, ketika ia diangkat menjadi Panglima Angkatan Bersenjata.[3]
Pada 19 Mei 2007, Tentara Lebanon terlibat dalam konflik berkepanjangan dengan Fatah al-Islam, sebuah organisasi teroris yang berbasis di Kamp Pengungsi Nahr al-Bared di Lebanon utara. Konflik ini berlangsung hingga 2 September 2007 dan berakhir setelah Tentara Lebanon sepenuhnya menguasai Kamp ini dan mengalahkan Fatah al-Islam. Sejumlah 170 tentara Lebanon, 226 anggota Fatah al-Islam, dan 64 warga sipil (kebanyakan pengungsi Palestina) tewas dalam pertempuran itu. Akibat dari sejumlah faktor, termasuk menjaga keseimbangan kepentingan warga Lebanon, keprihatian akan keselamatan para pengungsi Palestina, dan menjaga keseimbangan politik yang rapuh di Lebanon pada saat itu, Michel Suleiman terpaksa menempuh konflik itu dengan sangat berhati-hati.