Presiden Republik Cina

Daftar Presiden Republik Cina
Presiden Republik Cina adalah pemimpin eksekutif tertinggi dalam pemerintahan Republik Cina (Taiwan). Akan tetapi, karena republik ini menganut sistem kabinet dengan dua eksekutif (setengah presidensial, setengah parlementer), maka ada jabatan perdana menteri sebagai kepala kabinet.

Presiden merupakan panglima tertinggi tentara nasional dan berhak menunjuk perdana menteri untuk membentuk kabinet dengan persetujuannya. Sebelum tahun 1996, presiden dan wakil presiden dipilih oleh anggota Majelis Nasional Republik Cina. Pada tahun 1996, presiden waktu itu, Lee Teng-hui, memutuskan untuk melaksanakan pemilihan presiden secara langsung untuk pertama kalinya dalam 5.000 tahun sejarah Cina.
No       Presiden          Awal Jabatan  Akhir Jabatan  Partai   Wakil Presiden            Selama
Pemerintahan Sementara (1 Januari 1912 - 10 Oktober 1913)
1              Sun Yat-sen                          1 Januari 1912     1 April 1912          Tongmenghui       Li Yuanhong        -
2              Yuan Shikai                          10 Maret 1912     10 Oktober 1913 Beiyang clique
Partai Republiken                Li Yuanhong        -
Pemerintahan Beiyang (10 Oktober 1913 - 2 Juni 1928)
1              Yuan Shikai                          10 Oktober 1913[1]            6 Juni 1916[1]      Beiyang clique
Partai Republiken                Li Yuanhong        1
2              Li Yuanhong                        7 Juni 1916           17 Juli 1917[2]     Partai Progresif     Feng Guozhang
3              Feng Guozhang                    17 Juli 1917[2]     10 Oktober 1918 Zhili clique            Kosong
4              Xu Shichang                         10 Oktober 1918 2 Juni 1922           -               Kosong  2
Zhou Ziqi
(pejabat)                               2 Juni 1922           11 Juni 1922         -               Kosong
5              Li Yuanhong                        11 Juni 1922         13 Juni 1923         Partai Progresif     Kosong
Gao Lingwei
(pejabat)                               13 Juni 1923         10 Oktober 1923 -               Kosong
6              Cao Kun                               10 Oktober 1923 2 November 1924               Zhili clique            Kosong  3
Huang Fu
(pejabat)                               2 November 1924               24 November 1924[3]        Kuomintang (KMT)          Kosong
Hu Weide
(pejabat)                               20 April 1926[3]  13 Mei 1926         -               Kosong
Yan Huiqing
(pejabat)                               13 Mei 1926         22 Juni 1926         -               Kosong
Du Xigui
(pejabat)                               22 Juni 1926         1 Oktober 1926    Zhili clique            Kosong
Gu Weijun
(pejabat)                               1 Oktober 1926    18 Juni 1927[4][5]               Kuomintang (KMT)          Kosong
Setelah Konstitusi 1947 (20 Mei 1948 - Sekarang)
1              Chiang Kai-shek                  20 Mei 1948         21 Januari 1949   Kuomintang (KMT)          Li Zongren            1
Li Zongren
(pejabat)                               21 Januari 1949   1 Maret 1950       Kuomintang (KMT)          Kosong
Chiang Kai-shek                  1 Maret 1950       5 April 1975          Kuomintang (KMT)          Li Zongren
Chen Cheng
Kosong[6]             2
3
Yen Chia-kan       4
5
2              Yen Chia-kan       100px    5 April 1975          20 Mei 1978         Kuomintang (KMT)          Kosong
3              Chiang Ching-kuo               100px    20 Mei 1978         13 Januari 1988   Kuomintang (KMT)          Hsieh Tung-min   6
Lee Teng-hui        7
4              Lee Teng-hui                        13 Januari 1988   20 Mei 2000         Kuomintang (KMT)          Kosong
Li Yuan-zu            8
Lien Chan             9
5              Chen Shui-bian                    20 Mei 2000         20 Mei 2008         Partai Progresif Demokratik
(DPP)      Annette Lu            10
11
6              Ma Ying-jeou                       20 Mei 2008         Sekarang               Kuomintang
(KMT)   Vincent Siew         12

Sun Yat-sen
Sun Yat-Sen (Hanzi: 孫逸仙, Pinyin: Sūn Yì-xian, lahir 12 November 1866 – meninggal 12 Maret 1925 pada umur 58 tahun) adalah seorang pemimpin kunci revolusi Cina dan diakui secara luas sebagai Bapak Negara Cina Modern, baik di Cina Daratan maupun Taiwan.
Pada waktu itu, Cina diperintah oleh seorang kaisar yang memerintah seolah-olah seperti dewa. Sun Yat-sen yakin bahwa Cina perlu ditata dengan cara yang baru melalui revolusi. Pada tahun 1895, ia memimpin suatu pemberontakan di Kanton, tetapi dapat diredam. Secara keseluruhan, ia memimpin sebelas kali revolusi terhadap Dinasti Qing dan akhirnya berhasil menumbangkan kekaisaran, sehingga kaisar harus meletakkan jabatannya.

Cina selanjutnya menjadi Republik Cina pada tahun 1911 yang didirikan oleh Sun Yat-sen. Ia juga pendiri partai tertua dalam sejarah modern Cina, Kuomintang (KMT), menjadi pejabat presiden pada tahun 1912, dan presiden pada tahun 1923-1925.
Pada tahun 1925, ia meninggal di Cina. Tiga tahun kemudian, salah seorang pengikutnya, Chiang Kai-shek, terpilih menjadi presiden.

Yuan Shikai
Yuan Shikai (Hanzi tradisional: 袁世凱; bahasa Tionghoa: 袁世; Pinyin: Yuán Shìkǎi; Wade-Giles: Yüan Shih-k'ai; Courtesy Weiting 慰亭; Pseudonym: Rong'an 容庵) (16 September 1859[1] – 6 Juni 1916) adalah jendral Cina penting dan politikus yang terkenal selama era akhir Dinasti Qing.

Pranala luar
Yuan's descendents
Early support for Yuan among overseas Chinese
The Fight for the Republic in China by Bertram Lenox Simpson, di Proyek Gutenberg This etext first published in 1917 contains a detailed account of Yuan Shikai, his rise and fall.

Chiang Kai-shek
Chiang Kai-shek atau Jiang Jie-shi (Mandarin) (lahir di Fenghua, Zhejiang, 31 Oktober 1887 – meninggal di Taipei, Taiwan, 5 April 1975 pada umur 87 tahun) adalah salah seorang pemimpin kubu nasionalis yang berhadapan dengan kubu komunis dalam perang saudara di Tiongkok pada era Republik. Nama resminya adalah Jiang Zhong-zheng, sedangkan Jiang Jie-shi adalah nama kecilnya.

Pada tahun 1925, sepeninggal Dr. Sun Yat-sen, ia melanjutkan cita-cita revolusi Dr. Sun untuk mempersatukan Tiongkok di bawah satu pemerintahan. Pada masa tersebut, banyak raja-raja perang daerah berkuasa di daerah masing-masing karena tidak ada pemerintahan pusat yang kuat. Dengan jabatan Panglima Tentara Revolusi Rakyat ia kemudian melancarkan Ekspedisi Utara untuk menaklukkan raja-raja perang daerah tersebut. Dalam waktu 3 tahun, ia berhasil mempersatukan setengah wilayah Tiongkok di bawah pemerintahan Nasionalis Kuomintang di Nanjing.
Pada tahun 1937, Jepang menginvasi Tiongkok.

Perang saudara
Setelah Perang Dunia II usai, perang saudara antara kaum nasionalis dengan kaum komunis mulai berkobar lagi. Perang baru selesai pada tahun 1949 dan dimenangi komunis di bawah pimpinan Mao Zedong. Kemenangan ini ditandai dengan diproklamasikannya Republik Rakyat Cina pada tanggal 1 Oktober 1949. Chiang Kai-shek pun melarikan diri ke Pulau Formosa, berharap suatu hari bisa membebaskan Tiongkok daratan secara keseluruhan. Di Formosa, yang kemudian dikenal sebagai Taiwan, negara Republik Nasional Tiongkok tetap berdiri dan dipimpinnya sampai ia meninggal pada tahun 1975. Kekuasaan diteruskan oleh putranya, Chiang Ching-kuo.

Chiang Ching-kuo
Chiang Ching-kuo (Jiang Jingguo) - President of the Republic of China
history.cultural-china.com

Chiang Ching-kuo (Hanzi: 蔣經國, hanyu pinyin: Jiang Jingguo; 27 April 1910 - 13 Januari 1988) adalah salah satu presiden Republik Cina (Taiwan). Ia adalah anak dari Chiang Kai-shek dan melanjutkan jabatan kepresidenan sang ayah sepeninggalnya atas dukungan penuh anggota parlemen.

Lee Teng-hui
Lee Teng-hui (Hanzi tradisional: 李登輝; bahasa Tionghoa: 李登; Pinyin: Lǐ Dēnghuī) lahir 15 Januari 1923) adalah politikus Republik Cina (ROC). Ia tampil sebagai Presiden Republik China dan Ketua Kuomintang (KMT) pada periode 1988 - 2000.

Ia dikenal sebagai Bapak Demokrasi Taiwan karena melaksanakan pembaharuan politik yang lebih besar daripada para pendahulunya seperti Chiang Kai-shek dan Chiang Ching-kuo.

Ia dikenal juga sebagai pendorong Gerakan Pembaharuan Taiwan dan sangat agresif dalam berdiplomasi dengan dunia internasional. Kritikan tentang politik uang dan gerakan Kemerdekaan Taiwan menghantarkannya sebagai pemimpin partai.

Chen Shui-bian
Chen Shui-bian (Hanzi: 陳水扁, Pinyin: Chén Shuǐbiǎn lahir 18 Februari 1951) adalah Presiden Republik Cina antara tahun 2000-2008. Chen Shui-bian lahir di Desa Hsi-chuang, Kecamatan Kuan-tien, Kabupaten Tainan, Taiwan. Dusun tersebut dihuni hanya beberapa ratus keluarga yang memiliki mata pencaharian utama sebagai petani.

Masa kecil
Nama yang disandangnya merupakan nama tradisional Taiwan. Chen Shui-bian adalah anak pertama dari pasangan Chen Sung-ken (ayah) dan Chen Le-chen (ibu). Ia tiga bersaudara. Namanya sendiri mengacu pada arti 'batang bambu' yang biasa digunakan oleh para petani miskin untuk mengangkat dua ember air di ujungnya. Secara harfiah, karakter shui berarti 'air' dan bian berarti 'datar'.

Dalam keluarga tradisional miskin di Taiwan sudah merupakan kebiasaan untuk memberikan nama anak yang mengacu pada situasi kemiskinan yang dialaminya. Berdasarkan kepercayaan tersebut, “roh-roh cemburu” akan terkecoh dan tidak akan membuang waktu pada roh yang tidak ada artinya. Nama panggilan A-bian atau Ah-pi-a dalam bahasa Hokkien merupakan sebuah terminologi yang digunakan oleh orang-orang Taiwan untuk menunjukkan keakraban. Berbeda dengan orang-orang Taiwan atau Hongkong, A-bian tidak mempunyai nama Inggris.
Semasa sekolah, A-bian selalu menjadi juara pertama di tingkat kabupaten maupun nasional. Setelah menamatkan pendidikan tingkat atas, A-bian langsung diterima di Universitas Nasional Taiwan. Pendidikan di bidang hukum diselesaikannya tahun 1974 dan menempatkan dirinya sebagai juara pertama. A-bian kemudian menjadi pengacara ternama di bidang hukum kelautan.
Ia menikah dengan Wu Shu-chen tahun 1975. Berbeda dengan A-bian, Wu Shu-chen yang juga lahir di Tainan berasal dari keluarga yang mampu secara ekonomi dan memperoleh pendidikan yang lebih baik. Tahun 1976, A-bian menjadi pengacara utama pada perusahaan Formosa International Marine and Commercial Law. Dia bekerja di perusahaan itu hingga tahun 1989.

( society.ezinemark.com )

Terjun ke dunia politik
Tahun 1980, tanpa pengalaman membela perkara di pengadilan, A-bian menjadi pengacara untuk kasus politik. Ketika itu, ia diminta mewakili tersangka pengacau yang dituduh menyebabkan kerusuhan setelah Insiden Kaohsiung (1979). Beberapa polisi terluka dalam sebuah acara akbar di kota pelabuhan Kaohsiung untuk merayakan hari Hak Asasi Manusia (HAM) Internasional. Kekalahan di pengadilan menggugah kesadaran untuk berpolitik. Setahun kemudian, ia menang dalam pemilihan umum sebagai anggota Dewan Kota Taipei dari pihak oposisi.
Dua hari setelah kalah dalam pemilihan bupati Tainan pada 18 November 1985, ia dan istrinya menyampaikan ucapan terima kasih kepada para pendukungnya. Ketika itu muncul sebuah kenderaan bermesin menabrak istrinya dan melukai saraf tulang belakangnya. Setelah dua kali operasi besar, Wu menderita kelumpuhan bagian bawa tubuh dan harus menggunakan kursi roda seumur hidup. Kecelakaan ini sering dikait-kaitkan dengan represi Kuomintang terhadap pihak oposisi. Namun sebenarnya, sang penabrak tidak ada hubungan sama sekali dengan pihak politik manapun. Sang penabrak kemudian dimaafkan oleh Abian dan istrinya tak lama setelah kejadian tadi. Setelah A-bian kalah dalam pengadilan banding melawan Elmer Fung dan mendekam selama delapan bulan di penjara, Wu Shu-chen tetap melakukan aktivitas untuk mengumpulkan dana sebesar dua juta dolar Taiwan untuk denda suaminya. Wu Shu-chen mulai mengadakan aksi donasi dengan kursi roda keliling Taiwan untuk menggalang dana, di mana setiap orang cukup menyumbang satu dolar Taiwan saja. Setelah A-bian selesai menjalani hukuman, keadaan darurat Taiwan dicabut oleh Presiden Chiang Ching-kuo. Akhirnya, Partai Progresif Demokrat didirikan oleh orang-orang yang menginginkan kemerdekaan dan demokrasi penuh. A-bian bergabung sebagai anggota Komite Eksekutif Pusat partai tersebut.

Walikota Taipei dan kursi kepresidenan
Tahun 1989, A-bian terpilih sebagai anggota Parlemen menggantikan posisi istrinya yang menjadi anggota Legislatif Yuan sejak tahun 1987. Tahun 1994, A-bian terpilih sebagai salah satu dari “Global 100” sebagai pemimpin milenium baru. Setahun kemudian, ia meninggalkan Parlemen dan terpilih sebagai Walikota Kota Taipei yang terpopuler.
Selama menjadi walikota, pemerintahan A-bian ditandai berbagai kontroversi. Ia menutup industri seks di kota itu dan melarang berbagai bentuk perjudian dan hiburan-hiburan malam lain. Tahun 1998, ia kalah bersaing dengan calon Kuomintang untuk menduduki kembali kursi walikota. Buah kegagalannya ini, ia kemudian memenangi pemilu presiden tahun 2000. Ia menjadi presiden Taiwan pertama dari partai selain Kuomintang yang mengajukan calon Wakil Presiden Lien Chan. Partai Kuomintang sendiri telah memerintah di Taiwan selama lebih 55 tahun. Calon presiden James Soong yang menjabat Gubernur Taiwan hanya memperoleh 36,84% suara. Hasil pemilu 18 Maret 2000 membuat pengendalian kekuasaan dan politik Taiwan berpindah tangan. Di bawah lambang Republik Cina (Taiwan), Chen Shui-bian dan Annette Lu Hsiu-lien dilantik sebagai presiden dan wakil presiden Taiwan dalam suatu upacara di kantor kepresidenan di Taipei pada 20 Mei 2000.
Pada 20 Maret 2004, Taiwan kembali memilih presiden sekaligus sebuah referendum untuk menyatakan sikap terhadap ancaman rudal Republik Rakyat Cina dan pernyataan sikap ketidaktundukan rakyat Taiwan terhadap intimidasi. Situasi semakin menegang saat mendekati pelaksanaan presiden sekaligus sebuah Referendum Nasional.

Insiden 319
Tanggal 19 Maret 2004, sehari sebelum pemilihan presiden, Presiden Chen Shui-bian terkena tembakan sewaktu berpawai dalam kampanye meraih dukungan di kota Tainan. Annette Lu Hsiu-lien yang berdiri di sebelahnya mengalami luka tergores peluru di kaki kanannya. Insiden ini dianggap menyebabkan kekalahan Kuomintang yang sebelumnya diperkirakan akan memenangkan pemilihan kali ini. Chen kembali memenangi pemilihan presiden dengan 6.471.970 suara berbanding 6.442.452 suara untuk calon Aliansi Pan Biru, Lien Chan dan James Soong. Insiden ini mengundang kecaman, pro dan kontra dari dalam maupun luar Taiwan. Pihak yang mendukung Abian menuduh lawan politik Abian ingin membunuhnya demi merebut tampuk kekuasaan. Pihak oposisi kemudian menuduh bahwa insiden ini merupakan taktik kotor pihak Abian untuk meraih dukungan yang lebih besar.
Perbedaan suara yang sangat sedikit setelah pemilihan berakhir mengundang tuduhan dari pihak Pak Biru bahwa Abian mencuri kursi kepresidenan dan mengajukan secara resmi tuntutan pembatalan hasil pemilihan kepresidenan kali ini ke pengadilan.
Tuntutan ini tidak membuahkan hasil sampai berakhirnya masa jabatan kepresidenan Abian.

Turun dari kursi kepresidenan
Karena seorang presiden terpilih hanya dibatasi untuk menjabat selama dua kali masa jabatan, Frank Hsieh dan Su Tseng-tsang mewakili Partai Progresif Demokratik untuk ikut serta dalam pemilihan presiden tahun 2008. Setelah kekalahan partainya pada pemilihan kali ini, banyak pendukung partai yang mengarahkan kritik kepada Abian karena kekalahan kali ini dianggap erat kaitannya dengan prestasi pemerintahan Abian delapan tahun terakhir.

Dakwaan skandal dana kampanye
Tanggal 14 Agustus 2008, anggota parlemen dari partai Kuomintang membenarkan adanya permintaan resmi dari pemerintah Swiss kepada pihak pemerintah Taiwan untuk membantu penyelidikan terhadap kemungkinan adanya pencucian uang oleh bekas presiden Chen Shuibian dalam konferensi pers. Chen kemudian mengadakan konferensi pers sore harinya untuk mengakui bahwa ada kesalahan perhitungan penggunaan dana kampanye dan sebagian dana kampanye ditransfer ke beberapa rekening pribadi di luar Taiwan.
Chen secara resmi meminta maaf kepada seluruh rakyat Taiwan dan menyatakan bahwa dana tersebut ditransfer ke luar negeri oleh istrinya tanpa sepengetahuannya. Penyelidikan juga dilakukan oleh pihak berwenang Swiss terhadap rekening atas nama menantu Chen, Huang Ruiching yang menerima kiriman sebesar 31 juta dolar AS dari Taiwan dan lalu ditransfer ke rekening lainnya di Kepulauan Cayman.
Pengakuan Chen ini mengikuti penyangkalannya terhadap pemberitaan Next Magazine yang memberitakan adanya pengiriman uang dalam jumlah besar ke Amerika Serikat oleh menantu Chen, Huang Ruiching sehari sebelumnya.
Esok harinya, 15 Agustus 2008, Chen menyatakan ia dan istrinya mengundurkan diri dari Partai Progresif Demokratik sebagai konsekuensi kesalahannya itu.
Pihak kejaksaan Taiwan sedang mengadakan penyelidikan menyeluruh atas dakwaan pencucian uang ini.

Ma Ying-jeou
Ma Ying-jeou (Hanzi: 馬英九, Pinyin: Ma Yingjiu, Minnan: Ma Engkiu; lahir di Hongkong, 13 Juli 1950) adalah Presiden Republik Cina (Taiwan) sejak 20 Mei 2008, mantan menteri kehakiman, mantan Walikota Taipei, dan mantan ketua Kuomintang (KMT) pada periode 2005-2007.
Biografi singkat
Ma masih merupakan keturunan dari Ma Yuan, seorang tokoh Dinasti Han. Leluhurnya berasal dari Kabupaten Xiangtan, Hunan. Ia lahir di Rumah Sakit Kwong Wah di Kowloon, Hong Kong. Ia merupakan anak keempat dan satu-satunya laki-laki dari lima bersaudara. Ma masih berumur setahun sewaktu ikut pindah bersama keluarganya ke Taiwan. Ayahnya, Ma Ho-ling adalah anggota Kuomintang yang juga duduk sebagai pegawai negeri di pemerintahan Kuomintang. Kariernya dimulai sebagai tentara sukarelawan melawan Jepang. Sedangkan ibunya, Chin Hou-hsiu berkarier sebagai pegawai di Bank Sentral Republik Cina.
Prestasi Ma tidak mengecewakan orang tuanya dengan berhasil menjadi siswa sekolah menengah favorit di Taipei, Sekolah Menengah Atas Jianguo. Lalu mengambil jurusan hukum di Universitas Taiwan. Tahun 1974, ia berhasil memenangkan beasiswa dari Kuomintang untuk belajar ke luar negeri. Dengan beasiswa itu, ia meraih gelar Master di bidang hukum dari Universitas New York, seterusnya gelar Doktor di bidang yang sama dari Universitas Harvard.
Sewaktu mengecap pendidikan di AS, ia bertemu istrinya, Christine Chow Ma. Mereka menikah di AS dan melahirkan 2 putri, Ma Weizhong dan Ma Yuanzhong.

Walikota Taipei dan Ketua Kuomintang
Ma adalah walikota Taipei pada masa jabatan 1998 sampai 2006. Ia juga adalah ketua partai terpilih Kuomintang sejak 16 Juli 2005 setelah mengalahkan wakil ketua lainnya, Wang Jin-pyng yang juga adalah Ketua Parlemen Republik Cina di Taiwan yang sekarang, dalam pemilihan Ketua Partai KMT. Ma Ying-jeou memenangi jabatan Ketua Partai dari saingannya Wang Jin-pyng dengan hampir 70% suara.

( shanghai-daily.com )

Ia sedianya akan memimpin KMT untuk masa jabatan 2005 - 2009. Namun karena ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus korupsi terkait dengan tunjangan khusus selama menjabat sebagai walikota, ia mengajukan pengunduran diri sebagai ketua partai pada tanggal 13 Februari 2007. Pengunduran dirinya ini sangat terkait dengan pencurahan perhatian pada kampanye pemilihan presiden tahun 2008.

Pemilihan presiden 2008
Ia diajukan sebagai kandidat resmi untuk pemilihan presiden tahun 2008 oleh Kuomintang pada tanggal 2 Mei 2007. Tawarannya kepada Ketua Parlemen Wang Jin-pyng sebagai kandidat wakil presiden berpasangan dengannya ditolak oleh Wang dengan alasan tidak tertarik.
Ma kemudian berpasangan dengan Vincent Siew, yang merupakan ekonom terkemuka dan bekas perdana menteri Republik Cina semasa kepresidenan Lee Teng-hui. Pasangan seperti ini dipercaya akan mendongkrak popularitas dan dukungan kepada Ma karena sesuai dengan janji politiknya untuk mencurahkan lebih banyak perhatian pemerintah pada pembangunan ekonomi.
Pada pemilihan presiden tanggal 22 Maret 2008, pasangan Ma-Siew berhasil memenangi pemilihan presiden dengan perolehan 58% suara, mengalahkan Frank Hsieh dari Partai Progresif Demokratik.