Presiden Republik Rakyat Cina

Daftar Presiden Republik Rakyat Cina
Presiden Republik Rakyat Cina (simplified Chinese: 华人民共和国主席; Cina tradisional: 中華人民共和國主席; pinyin: Zhōnghuá Rénmín Gònghéguó Zhǔxí), or abbreviated Guójiā Zhǔxí 国家主席, literal Pimpinan Negara Republik Rakyat Cina) adalah kepala negara Republik Rakyat Cina. Posisi ini dibentuk melalui Konstitusi 1982. Sebelumnya, Presiden dipilih oleh Kongres Rakyat Nasional sesuai dengan Pasal 62 dalam Konstitusi. Dalam prakteknya, pemilihan presiden biasanya merupakan pemilu dengan 'calon tunggal'. Sang kandidat direkomendasikan oleh Presidium Kongres Rakyat Nasional.

Istilah Zhuxi merujuk kepada ketua umum dalam sebuah komite, dan diterjemahkan demikian sebelum adanya Konstitusi 1982 (misalnya Ketua Umum Mao). Terjemahan resminya berubah menjadi Presiden setelah 1982 untuk mengikuti pengistilahan Barat. Meskipun begitu, zhuxi tetap digunakan dalam bahasa Tionghoa, dan arti aslinya tetap adalah ketua umum. Kata Presiden jika diterjemahkan dari bahasa Inggris tetap adalah Zongtong (总统 zŏng tŏng), yang menyebabkan sedikit kebingungan mengenai penggunaannya. Zongtong tidak dipergunakan menggantikan Zhuxi karena dianggap bersifat kebaratan dan borjuis.

Pimpinan Republik Rakyat Cina
Mao Zedong (27 September 1954 - 27 April 1959)
Liu Shaoqi (27 April 1959 - 31 Oktober 1968)
Tidak ada pengganti Liu Shaoqi, maka wakil ketua umum menjadi pimpinan negara sementara;
Dong Biwu (31 Oktober 1968 - 17 Januari 1975)
Soong Ching-ling (31 Oktober 1968 - 24 Februari 1972)

Jabatan Ketua Umum dihapus secara resmi pada 1975 dan fungsi pemimpin negara dipindah secara resmi kepada ketua umum Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional.

Ketua Umum Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional
Zhu De (17 Januari 1975 - 6 Juli 1976)
Dari 6 Juli 1976-5 Maret 1978 jabatan ini tetap kosong. Duapuluh wakil ketua umum Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional secara bersama-sama melaksanakan tugas pemimpin negara. Mereka adalah, menurut urutannya, Wu De (lahir: 1914 - wafat: 1995), Song Qingling (lahir: 1893 - wafat: 1981), Liu Bocheng, Wei Guoqing, Seypidin, Chen Yun, Tan Zhenlin, Li Jingquan, Ulanhu, Guo Moruo, Xu Xiangqian, Nie Rongzhen, Zhang Dingcheng, Cai Chang, Ngapoi Ngawang Jigme, Zhou Jianren, Xu Deheng, Hu Juewen, Li Suwen, Yao Lianwei, dan dari 2 Desember 1976, Deng Yingchao (lahir: 1904 - wafat: 1992).
Ye Jianying (5 Maret 1978 - 18 Juni 1983)


Presiden Kehormatan Republik Rakyat Cina
Soong Ching-ling (dua minggu sebelum kematiannya; 16 Mei 1981-28 Mei 1981)

Presiden Republik Rakyat Cina
Li Xiannian (18 Juni 1983 - 8 April 1988)
Yang Shangkun (8 April 1988 - 27 Maret 1993)
Jiang Zemin (27 Maret 1993 - 15 Maret 2003)
Hu Jintao (15 Maret 2003 - Sekarang)

Referensi dan catatan
^ The position of Chairman was officially abolished in 1975 and the functions of head of State were formally transmitted to the chairman of the Standing Committee of the National People's Congress until Song Qingling became Honorary President in 1981.
^ The head of State during July 6, 1976 through September 9, 1976 were collectively executed by the twenty vice-chairmen, in order of ranking, Wu De (b. 1914 - d. 1995), Song Qingling (b. 1893 - d. 1981), Liu Bocheng, Wei Guoqing, Seypidin, Chen Yun, Tan Zhenlin, Li Jingquan, Ulanhu, Guo Moruo, Xu Xiangqian, Nie Rongzhen, Zhang Dingcheng, Cai Chang, Ngapoi Ngawang Jigme, Zhou Jianren, Xu Deheng, Hu Juewen, Li Suwen, Yao Lianwei, and, from Dec 2, 1976, Deng Yingchao (b. 1904 - d. 1992).
^ On May 16, 1981, the title of Honorary President of the People's Republic of China was conferred on Soong Ching-ling by the National People's Congress. She died two weeks later on May 29, 1981. The powers of the head of state reverted to the Chairman of the Standing Committee of the National People's Congress.
^ The position of President was officially abolished again in 1981 after the death of Song Qingling and the functions of head of State were formally transmitted to the chairman of the Standing Committee of the National People's Congress until June 18, 1983.



Mao Zedong
Mao Zedong (Hanzi: 毛澤東) (lahir di Shaoshan, Hunan, 26 Desember 1893 – meninggal di Beijing, 9 September 1976 pada umur 82 tahun), adalah seorang tokoh filsuf dan pendiri negara Republik Rakyat Cina. Ia adalah salah satu tokoh terpenting dalam sejarah modern Cina[1]

Masa kecil
Lahir di sebuah keluarga petani miskin, sejak kecil Mao harus bekerja keras dan hidup prihatin. Meskipun di kemudian hari keadaan ekonomi keluarganya meningkat, tetapi kesengsaraan di masa kecil itu banyak memengaruhi kehidupannya kelak[2].

Ketika kecil, Mao dikirim untuk belajar di sekolah dasar. Pendidikannya sewaktu kecil juga mencakup ajaran-ajaran klasik Konfusianisme. Tetapi pada usia 13 tahun, ayahnya menyuruhnya berhenti bersekolah dan menyuruhnya bekerja di ladang-ladang. Mao memberontak dan bertekad ingin menyelesaikan pendidikannya sehingga ia nekat kabur dari rumah dan melanjutkan pendidikannya di tempat lain. Pada tahun 1905, ia mengikuti ujian negara yang pada saat itu mulai menghapus paham-paham konfusianisme lama; digantikan oleh pendidikan gaya Barat. Hal ini menandakan permulaan ketidakpastian intelektual di Cina.

Pada tahun 1911, Mao terlibat dalam Revolusi Xinhai yang merupakan revolusi melawan Dinasti Qing yang berakibat kepada runtuhnya kekaisaran Cina yang sudah berkuasa lebih 2000 tahun sejak tahun 221 SM. Tahun 1912, Republik Cina diproklamasikan oleh Sun Yat-sen dan Cina dengan resmi masuk ke zaman republik. Mao lalu melanjutkan sekolahnya dan mempelajari banyak hal antara lain budaya barat. Pada tahun 1918 ia lulus dan lalu kuliah di Universitas Beijing. Di sana ia akan berjumpa dengan para pendiri PKT yang berhaluan Marxis.

Mao Zedong di tahun 1936

Mao dan Partainya
Partai Mao didirikan pada tahun 1921 dan Mao semakin hari semakin vokal. Antara tahun 1934 – 1935 ia memegang peran utama dan memimpin Tentara Merah Cina menjalani “Mars Panjang”. Lalu semenjak tahun 1937 ia ikut menolong memerangi Tentara Dai Nippon yang menduduki banyak wilayah Cina. Akhirnya Perang Dunia II berakhir dan perang saudara berkobar lagi. Dalam perang yang melawan kaum nasionalis ini, Mao menjadi pemimpin kaum Merah dan akhirnya ia menangkan pada tahun 1949. Pada tanggal 1 Oktober tahun 1949, Republik Rakyat Cina diproklamasikan dan pemimpin Cina nasionalis; Chiang Kai Shek melarikan diri ke Taiwan.

Falsafah Mao
Mao sebenarnya bukan seorang filsuf yang orisinil. Gagasan-gagasannya berdasarkan bapak-bapak sosialisme lainnya seperti Karl Marx, Friedrich Engels, Lenin dan Stalin. Tetapi ia banyak berpikir tentang materialisme dialektik yang menjadi dasar sosialisme dan penerapan gagasan-gagasan ini dalam praktek seperti dikerjakan Mao bisa dikatakan orisinil. Mao bisa pula dikatakan seorang filsuf Cina yang pengaruhnya paling besar dalam Abad ke 20 ini.

Konsep falsafi Mao yang terpenting adalah konflik. Menurutnya: “Konflik bersifat semesta dan absolut, hal ini ada dalam proses perkembangan semua barang dan merasuki semua proses dari mula sampai akhir.” Model sejarah Karl Marx juga berdasarkan prinsip konflik: kelas yang menindas dan kelas yang tertindas, kapital dan pekerjaan berada dalam sebuah konflik kekal. Pada suatu saat hal ini akan menjurus pada sebuah krisis dan kaum pekerja akan menang. Pada akhirnya situasi baru ini akan menjurus kepada sebuah krisis lagi, tetapi secara logis semua proses akhirnya menurut Mao, akan membawa kita kepada sebuah keseimbangan yang stabil dan harmonis. Mao jadi berpendapat bahwa semua konflik bersifat semesta dan absolut, jadi dengan kata lain bersifat abadi. Konsep konflik Mao ini ada kemiripannya dengan konsep falsafi yin-yang. Semuanya terdengar seperti sebuah dogma kepercayaan. Di bawah ini disajikan sebuah cuplikan tentang pemikirannya tentang konflik.

Mao Zedong memproklamasikan Republik Rakyat Cina pada tanggal 1 Oktober 1949.

Dalam ilmu pengetahuan semuanya dibagi berdasarkan konflik-konflik tertentu yang melekat kepada obyek-obyek penelitian masing-masing. Konflik jadi merupakan dasar daripada sesuatu bentuk disiplin ilmu pengetahuan. Di sini bisa disajikan beberapa contoh: bilangan negatif dan positif dalam matematika, aksi dan reaksi dalam ilmu mekanika, aliran listrik positif dan negatif dalam ilmu fisika, daya tarik dan daya tolak dalam ilmu kimia, konflik kelas dalam ilmu sosial, penyerangan dan pertahanan dalam ilmu perang, idealisme dan materialisme serta perspektif metafisika dan dialektik dalam ilmu filsafat dan seterusnya. Ini semua obyek penelitian disiplin-disiplin ilmu pengetahuan yang berbeda-beda karena setiap disiplin memiliki konfliknya yang spesifik dan esensi atau intisarinya masing-masing.
Contoh-contoh yang diberikan oleh Mao Zedong mengenai 'konflik' dalam disiplin yang berbeda-beda diambilnya dari Lenin. Beberapa analogi memang pas tetapi yang lain-lain tidak. Bilangan-bilangan negatif dan positif merupakan sebuah contoh yang buruk mengenai dialektika marxisme karena perbedaan mereka tidak dinamis: hanya ada bilangan-bilangan negatif dan positif baru yang bermunculan. Pendapat Mao menjadi meragukan lagi apabila ia mengatakan bahwa 'konflik'-'konflik' ini merupakan 'intisari' daripada disiplin ilmu pengetahuan yang bersangkutan. Bilangan negatif dan positif bukanlah intisari ilmu matematika, begitu pula metafisika dan dialektika bukanlah intisari dari filsafat. Mao adalah seseorang yang terpelajar dan pengertian-pengertiannya yang salah bisa diterangkan dari sebab ia sangat terobsesi dengan konsep konflik ini. Obsesi ini juga memengaruhi keputusan-keputusan politiknya seperti akan dipaparkan di bawah nanti. Konsep Mao kedua yang penting adalah konsepnya mengenai pengetahuan yang juga ia ambil dari paham Marxisme. Mao berpendapat bahwa pengetahuan merupakan lanjutan dari pengalaman di alam fisik dan bahwa pengalaman itu sama dengan keterlibatan. Jika engkau mencari pengetahuan maka engkau harus terlibat dengan keadaan situasi yang berubah. Jika kau ingin mengetahui bagaimana sebuah jambu rasanya, maka jambu itu harus diubah dengan cara memakannya. Jika engkau ingin mengetahui sebuah struktur atom, maka engkau harus melakukan eksperimen-eksperimen fisika dan kimia untuk mengubah status atom ini. Jika engkau ingin mengetahui teori dan metode revolusi, maka engkau harus mengikutinya. Semua pengetahuan sejati muncul dari pengalaman langsung.
Hanya setelah seseorang mendapatkan pengalaman, maka ia baru bisa melompat ke depan. Setelah itu pengathuan dipraktekkan kembali yang membuat seseorang mendapatkan pengalaman lagi dan seterusnya. Di sini diperlihatkan bahwa Mao tidak saja mengenal paham Marxisme tetapi juga paham neokonfusianisme seperti dikemukakan oleh Wang Yangmin yang hidup pada abad ke 15 sampai ke abad ke 16.

MAO Zedong, P. Hurley dan Zhu De (1944) http://www.scideanews.com/content/full/sh20060909a1

Mao dan Kebijakan Politiknya
Mao membedakan dua jenis konflik; konflik antagonis dan konflik non-antagonis. Konflik antagonis menurutnya hanya bisa dipecahkan dengan sebuah pertempuran saja sedangkan konflik non-antagonis bisa dipecahkan dengan sebuah diskusi. Menurut Mao konflik antara para buruh dan pekerja dengan kaum kapitalis adalah sebuah konflik antagonis sedangkan konflik antara rakyat Cina dengan Partai adalah sebuah konflik non-antagonis.
Pada tahun 1956 Mao memperkenalkan sebuah kebijakan politik baru di mana kaum intelektual boleh mengeluarkan pendapat mereka sebagai kompromis terhadap Partai yang menekannya karena ingin menghindari penindasan kejam disertai dengan motto: “Biarkan seratus bunga berkembang dan seratus pikiran yang berbeda-beda bersaing.” Tetapi ironisnya kebijakan politik ini gagal: kaum intelektual merasa tidak puas dan banyak mengeluarkan kritik. Mao sendiri berpendapat bahwa ia telah dikhianati oleh mereka dan ia membalas dendam. Sekitar 700.000 anggota kaum intelektual ditangkapinya dan disuruh bekerja paksa di daerah pedesaan.
Mao percaya akan sebuah revolusi yang kekal sifatnya. Ia juga percaya bahwa setiap revolusi pasti menghasilkan kaum kontra-revolusioner. Oleh karena itu secara teratur ia memberantas dan menangkapi apa yang ia anggap lawan-lawan politiknya dan para pengkhianat atau kaum kontra-revolusioner. Peristiwa yang paling dramatis dan mengenaskan hati ialah peristiwa Revolusi Kebudayaan yang terjadi pada tahun 1966. Pada tahun 1960an para mahasiswa di seluruh dunia memang pada senang-senangnya memberontak terhadap apa yang mereka anggap The Establishment atau kaum yang memerintah. Begitu pula di Cina. Bedanya di Cina mereka didukung oleh para dosen-dosen mereka dan pembesar-pembesar Partai termasuk Mao sendiri. Para mahasiswa dan dosen mendirikan apa yang disebut Garda Merah, yaitu sebuah unit paramiliter. Dibekali dengan Buku Merah Mao, mereka menyerang antek-antek kapitalisme dan pengaruh-pengaruh Barat serta kaum kontra-revolusioner lainnya. Sebagai contoh fanatisme mereka, mereka antara lain menolak berhenti di jalan raya apabila lampu merah menyala karena mereka berpendapat bahwa warna merah, yang merupakan simbol sosialisme tidak mungkin mengartikan sesuatu yang berhenti. Maka para anggota Garda Merah ini pada tahun 1966 sangat membabi buta dalam memberantas kaum kontra revolusioner sehingga negara Cina dalam keadaan amat genting dan hampir hancur; ekonominyapun tak jalan. Akhirnya Mao terpaksa menurunkan Tentara Pembebasan Rakyat untuk menanggulangi mereka dan membendung fanatisme mereka. Hasilnya adalah perang saudara yang baru berakhir pada tahun 1968.

Kegagalan Mao
Pada tahun 1958 Mao meluncurkan apa yang ia sebut Lompatan Jauh ke Depan di mana daerah pedesaan direorganisasi secara total. Di mana-mana didirikan perkumpulan-perkumpulan desa (komune). Secara ekonomis ternyata ini semua gagal. Komune-komune ini menjadi satuan-satuan yang terlalu besar dan tak bisa terurusi. Diperkirakan kurang lebih hampir 20 juta jiwa penduduk Cina kala itu tewas secara sia-sia[3].

Mao Zedong dan PBB
Republik Rakyat Cina semenjak diproklamasikan oleh Mao pada tahun 1949 tidak diakui oleh Amerika Serikat. Amerika Serikat tetap mengakui Republik Nasionalis Cina yang semenjak tahun 1949 hanya menguasai pulau Formosa atau Taiwan dan sekitarnya. Cina yang sejak didirikannya PBB pada tahun 1945 sudah menjadi anggota Dewan Keamanan secara tetap bersama dengan Amerika Serikat, Britania Raya, Perancis dan Uni Soviet (Rusia) sebagai pemenang Perang Dunia II, tetap diwakili pula. Cuma yang mewakili adalah pemerintah nasionalis yang sekarang hanya memerintah Taiwan saja. Hal ini menjadi aneh sebab Cina daratan yang kala itu berpenduduk kurang lebih 800 juta jiwa tidak diwakili di PBB; yang mewakili hanya Taiwan saja yang kala itu berpenduduk mungkin tidak lebih dari 10 juta jiwa.
Maka pada akhir tahun 1960-an presiden Amerika Serikat, Richard Nixon, mulai mendekati Republik Rakyat Cina dan akhirnya dengan persetujuan Uni Soviet RRC menjadi anggota Dewan Keamanan PBB mulai tahun 1972 dan menggantikan Taiwan.

Warisan Mao dan Republik Rakyat Cina saat ini
Pada tahun 1976 Mao Zedong meninggal dunia. Setelah itu Republik Rakyat Cina menjadi semakin terbuka. Normalisasi hubungan diplomatik dengan Indonesia juga terwujud pada tahun 1992. Pada saat ini Cina tampil sebagai sebuah raksasa yang baru bangun dari tidurnya dan pertumbuhan ekonomi sangat pesat. Bahkan Cina bisa melampaui Rusia dalam perkembangannya. Hal yang dipertentangkan sekarang ialah apakah ini semua bisa diraih berkat jasa-jasa Mao atau karena pengaruhnya sudah tipis.

Liu Shaoqi
Liu Shaoqi ( enghunan.gov.cn )

Liú Shàoqí (Hanzi Sederhana: 刘少奇, Hanzi tradisional: 劉少奇 Wade-Giles: Liu Shao-ch'i) (lahir 24 November 1898 – meninggal 12 November 1969 pada umur 70 tahun) adalah seorang politikus pemimpin Partai Komunis Cina dan juga Republik Rakyat Cina.

Awal hidup
Dilahirkan dalam keluarga kaya di Yinshan, provinsi Hunan, Liu menghadiri sekolah yang sama dengan Mao Zedong di Changsha, dan kemudian ke Uni Soviet dan menerima pendidikan universitas di Universitas Toilers of the East di Moskow. Pada 1921 dia bergabung dengan PKT yang baru dibentuk. Dia kembali ke Cina pada 1922, dan memimpin beberapa protes pekerja rel. Pada periode 1925-1926 dia memimpin banyak kampanye politik dan demonstrasi di Hubei dan Shanghai. Pada 1927 dia terpilih menjadi Komite Pusat partai tersebut.

Akhir hidup
Pada 1960-an Mao membangung kembali posisinya dalam partai dan pada 1966 dia meluncurkan Revolusi Kebudayaan sebagai cara menghancurkan musuhnya dalam partai: Liu dan Deng Xiaoping, dan lainnya. Pada 1967 Liu berada dibawah tahanan rumah di Beijing.
Liu disingkirkan dari segala posisinya dan dikeluarkan dari partai pada Oktober 1968 dan menghilang dari pandangan. Baru diketahui setelah kematian Mao pada 1976], Liu ditahan dalam keadaan yang sangat buruk dalam sebuah sel terisolasi di Kaifeng, yang menyebabkan kematiannya oleh "ketiadaan perawatan medis" (diabetes dan pneumonia yang tidak terawat) pada 1969. Setelah Deng Xiaoping berkuasa pada 1978, Liu direhabilitasi secara politik, dengan pemakaman kenegaraan lebih dari satu dekade setelah kematiannnya.

Jiang Zemin
Jiang Zemin (Hanzi: 江澤民; pinyin: jiāng zémín) lahir tanggal 17 Agustus 1926 adalah pemimpin generasi ketiga di Republik Rakyat Cina setelah Mao Zedong dan Deng Xiaoping. Ia menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Partai Komunis Cina sejak 1989 sampai dengan 2002, Presiden Republik Rakyat Cina sejak 1993 sampai dengan 2003 dan sebagai Ketua Komisi Militer Pusat dari tahun 1989 sampai dengan 2004.

Hu Jintao
Hu Jintao pada 13 November 2004

Hú Jǐntāo (lahir 21 Desember 1942) adalah politikus Republik Rakyat Cina yang menjadi Sekretaris Umum Partai Komunis Cina pada 15 November 2002. Ia kemudian menjadi Presiden Cina pada 15 Maret 2003.

Biografi
Ia lahir pada 21 Desember 1942 di Jiangyan, Jiangsu. Sumber lain menyebutkan, Hu Jintao lahir di Shanghai dan berasal dari keluarga pedagang teh yang merupakan anak tertua dari tiga bersaudara. Sumber lain juga menyebutkan, ada kemungkinan keluarga Hu keluar dari Shanghai pada masa pendudukan Jepang. Juga dilaporkan bahwa Hu muda tumbuh di Kabupaten Taizhou (Provinsi Jiangsu) di pesisir timur yang subur dan indah.
Keluarganya sendiri mengklaim Jixi sebagai kampung halaman mereka. Berdasarkan berbagai penelitian, ada kemungkinan keluarga Hu Jintao memiliki hubungan dengan seorang kelahiran Jixi ternama lain bernama Hu Shi, yang adalah pujangga dan ilmuwan pada awal abad ke-20 dan menjadi duta besar bagi Generalisimo Chiang Kai-shek di Washington, DC. Persoalannya, bila Hu Jintao memiliki hubungan dengan Hu Shi, maka akan susah diterima di Universitas Qinghua pada tahun pertama dilaksanakannya kampanye politik “Anti Kanan” (1959). Memang, orang-orang bermarga Hu dari Jixi dikenal sebagai klan yang berpendidikan baik sehingga Hu Jintao bisa jadi cocok dengan gambaran ini. Setelah menyelesaikan studi di bidang Rekayasa Konservasi Air dengan nilai A, Hu tetap bekerja di Universitas Qinghua sebagai asisten politik dan diidentifikasi sebagai “calon prospektif” PKT di universitas. Rektor Universitas Qinghua (Jiang Nanxiang) yang memiliki kedekatan hubungan dengan Sentral Komite PKT dan para pemimpin di Beijing menaruh perhatian terhadapnya. Jiang dikenal sering merekomendasikan para mahasiswa Qinghua untuk pekerjaan kader di kantor pusat PKT. Pada masa Revolusi Kebudayaan, seperti umumnya orang muda saat itu, Hu Jintao dikirim ke provinsi termiskin di Cina, yaitu Gansu dan secara cepat mengalami promosi beberapa kali. Hu Jintao bergabung dengan PKT pada tahun 1964. Pada tahun 1965, ia lulus universitas dengan gelar insinyur dalam bidang hidraulik. Soal kemiskinan telah ia lewatkan di sejumlah daerah miskin di Cina. Di mulai di Provinsi Ganzu (Cina Barat laut) sebagai Wakil Sekretaris PKT Ganzu tahun 1980. Ketuanya (Song Ping) yang juga lulusan Qinghua kemudian menjadi salah satu pemimpin PKT beraliran konservatif. Song memperkenalkan Hu kepada Hu Yaobang pada tahun 1982 yang kemudian diangkat menjadi Wakil Sekretaris Liga Pemuda Komunis pimpinan Hu Yaobang.
Memang, menjadi tidak biasa dan perlu diberi catatan bahwa Hu Jintao mampu bekerja untuk pemimpin dari kelompok konservatif (Song Ping) dan kelompok moderat (Hu Yaobang). Hal ini menunjukkan bahwa Hu Jintao memiliki pemikiran terbuka dan hati-hati. Tahun 1985, ia menjadi Sekretaris PKT di Provinsi Guizhou (Cina Barat Daya) dan menunjukkan reputasi sebagai pemimpin yang baik serta berupaya mengerti masalah yang dialami rakyat di daerah miskin tersebut.

( leroyspinkfist.blogspot.com )

Tahun 1988, Hu ditunjuk sebagai Sekretaris PKT Tibet. Inilah jabatan yang menambah kontroversi dalam kariernya yang sebelumnya sangat tenang dan efisien. Kerusuhan muncul di Tibet sebelum ia tiba di Lhasa. Bulan Maret 1988 terjadi demonstrasi besar yang kemudian ditumpas dengan kekerasan. Undang-undang Darurat diberlakukan, kemudian menjadi preseden yang diberlakukan di Beijing dalam menghadapi gerakan pro-demokrasi di Lapangan Tiananmen. Sejak itu tak pernah ada kata kompromi atas setiap aksi yang hendak memisahkan Tibet dari Cina, sehingga ia dianggap bertanggung jawab atas kematian Lama Panchen (pemimpin spiritual tertinggi kedua di Tibet). Namanya juga tersangkut dalam kasus Tiananmen yang menewaskan 218 warga sipil dan 23 tentara serta 7.000 orang terluka pada awal 1989.
Tahun 1990, dia menghabiskan waktunya di Beijing dan terpilih untuk mengatur persiapan penyelenggaraan Kongres PKT ke-14 (1992). Kongres ini menjadi penting sebagai pengatur transisi kekuasaan kepemimpinan pasca Deng Xiaoping. Dalam kongres itulah, Deng Xiaoping mempromosikan Hu Jintao dari sekretaris partai provinsi memasuki ruang kekuasaan sebagai “kader lintas generasi”. Ketika memimpin Sekolah PKT sejak tahun 1993, Hu Jintao melakukan perubahan dengan mendorong diskusi terbuka membahas masalah reformasi. Lintasan kariernya menunjukkan bahwa ia mampu bekerja efektif. Lebih dari sepuluh tahun rela menunggu dan tampaknya dia telah mengakumulasi kekuasaan dan inisiatif. Posisinya sebagai pengganti Jiang Zemin kian jelas tahun 1998 ketika menjadi Wakil Presiden dan Wakil Ketua Komisi Militer Pusat di tahun 1999. Kongres PKT ke-16 Oktober 2002 memastikannya sebagai pemimpin Cina. Kongres berakhir dengan memilih 9 anggota Komite Tetap Politbiro PKT dengan Sekretaris Jenderal Hu Jintao sebagai inti kepemimpinan Cina. Berbagai kritikan langsung diarahkan padanya. Dalam buku China’s New Rulers yang mengutip dokumen sangat rahasia Cina menyebutkan kebiasaan Hu yang setia dan taat. Secara bertahap, ia memperoleh hormat dan dukungan berspektrum regional dan politik. Jabatannya kian lengkap ketika menjabat pemimpin negara pada tahun 2003. Ia menggantikan Jiang Zemin yang mengundurkan diri sebagai Ketua Umum Partai Komunis (2004), Ketua Umum Komisi Militer Partai Komunis (2004), dan Ketua Umum Komisi Militer Republik Rakyat Cina.