Presiden Timor Leste

Daftar Presiden Timor Leste
Timor Leste adalah sebuah negara demokratik yang sedang berkembang. Presiden pertama setelah negara ini meraih pengakuan kemerdekaan pada tahun 2002 adalah mantan aktivis perjuangan Xanana Gusmão. Kini, jabatan presiden terletak pada diri Presiden José Ramos Horta.
Setelah konstitusi baru diperkenalkan, sistem parlementer dipilih dan jabatan presiden hanya merupakan jabatan seremonial.

Semasa perang kemerdekaan
Francisco Xavier do Amaral (28 November 1975 – 7 Desember 1975)
Nicolau dos Reis Lobato (7 Desember 1975 – 31 Desember 1978) (nominal)

Presiden Republik Demokratik Timor Leste merdeka
No.      Nama   Foto     Mulai Menjabat            Akhir Jabatan  Keterangan
1          Xanana Gusmao                      20 Mei 2002    20 Mei 2007
2          Jose Ramos Horta                    20 Mei 2007    Masih menjabat
(Berhalangan 11 Februari - 17 April 2008)
Vicente Guterres                      11 Februari 2008         13 Februari 2008         [1]
Fernando de Araújo                 13 Februari 2008         17 April 2008  [1]

Catatan kaki
^ a b Menjabat sementara menggantikan Ramos Horta yang berhalangan karena luka tembak oleh sejumlah tentara pemberontak.

Francisco Xavier do Amaral
Francisco Xavier do Amaral lahir 1937 di Turiscai, Distrik Manufahi adalah Proklamator Kemerdekaan Timor-Leste yang diproklamirkan pada tanggal 28 November 1975 kemudian menjabat sebagai Presiden pertama. Beliau yang ketika itu sebagai pendiri dan ketua umum ASDT, kemudian berubah menjadi Fretilin.
Setelah restorasi kemerdekaan pada 2002 Xavier Amaral terpilih sebagai anggota Majelis Konstituante (Assembleia Constituinte), kemudian menjelma menjadi lembaga parlemen pertama di Timor-Leste. Setelah pemilihan umum tahun 2007 beliau terpilih kembali menjadi anggota Parlamento Nacional dari partainya ASDT.
Amaral maju lagi untuk jabatan presiden pada pemilu presiden April 2007, [1] taking fourth place with 14.39% of the vote.[2]

Nicolau dos Reis Lobato
Nicolau dos Reis Lobato (lahir di Bazartete, Liquiçá, 7 Desember 1952 – meninggal 31 Desember 1978 pada umur 26 tahun) adalah politikus dan tokoh nasional Timor Leste. Ia adalah pendiri dan wakil ketua ASDT, partai yang kemudian berubah nama menjadi Fretilin. Setelah Proklamasi Kemerdekaan tanggal 28 November 1975 ia diangkat menjadi Perdana Menteri pertama Timor Leste. Ia tewas di tangan TNI pada 31 Desember 1978. Bandara Internasional Timor Leste menggunakan namanya untuk menghargai perjuangannya yang diberi nama Bandar Udara Internasional Presidente Nicolau Lobato (bahasa Portugis: Aeroporto Internacional Presidente Nicolau Lobato.
Saat kedatangan militer Indonesia, bersama dengan tokoh Fretilin lainnya, Lobato lari ke pedalaman TimTim untuk berperang melawan pasukan Indonesia. Pada tahun 1978, Lobato disergap oleh Kopassus yang dipimpin oleh Letnan Prabowo Subianto (kemudian menjadi menantu Presiden Soeharto). Ia terbunuh setelah ditembak di perut, dan mayatnya dibawa ke Dili. Nicolau dos Reis Lobato diangkat sebagai pahlawan nasional Timor Leste.

Keluarga
Nicolau dos Reis Lobato adalah saudara kandung Rogerio Lobato, ketua Fretilin yang pertama. Nicolau Lobato menikah dengan Isabel Barreto dan dikaruniai seorang anak laki-laki bernama José Lobato. Lúcia Lobato, yang sekarang menjabat sebagai Menteri Kehakiman dan salah satu kandidat Presiden Timor-Leste pada tahun 2007, adalah sepupunya.

Xanana Gusmão
Kay Rala Xanana Gusmão GCL (terlahir José Alexandre Gusmão lahir di Laleia, Manatuto, Timor Portugis, 20 Juni 1946)  adalah mantan gerilyawan yang menjabat Presiden Timor Leste yang pertama, menjabat pada 20 Mei 2002-20 Mei 2007. Kini, ia menjabat Perdana Menteri Timor Leste yang keempat dengan kabinetnya Pemerintah Konstitusional Keempat, sejak 8 Agustus 2007.[1]

Kehidupan
Ia lahir di Laleia, Manatuto, Timor Portugis dengan nama José Alexandre Gusmão. Sebelum menjadi gerilyawan, ia adalah seorang pemain sepak bola dan wartawan, namun kemudian bergabung dengan para pejuang Timor Leste melawan pemerintahan Indonesia.
Sekitar 20 tahun perjuangan bersenjata di hutan dan pegunungan, Xanana lalu memimpin pasukan gerilya hingga ditangkap tentara Indonesia pada 20 November 1992. Ia harus menjalani pemenjaraan politik selama tujuh tahun hingga kemudian dibebaskan pada 7 September 1999 oleh pemerintah Indonesia setelah runtuhnya kekuasaan Orde Baru.
Tahun 1974, Xanana bergabung dengan Fretilin dan menjadi pemimpin Falintil tahun 1978. Tahun 1987, ia memutuskan keluar dari Fretilin dan membentuk Dewan Pertahanan Nasional rakyat Maubere (CNRM). Langkah ini dilakukan guna merangkul semua pihak termasuk gereja demi menghindari kesan perjuangan kemerdekaan hanya dilakukan Fretilin. Untuk mendapat pengakuan internasional, Xanana menyempurnakannya dengan mengubah CNRM menjadi CNRT (Dewan Pertahanan Nasional Rakyat Timor) tahun 1998 di Pinichi (Portugal).
Pada tahun 1992, ia ditangkap dan dipenjara di Cipinang, (Jakarta). Namanya agak tenggelam ketika UNTAET mengambil alih wewenang sementara di Timor Leste pada 26 Oktober 1999 dan baru mencuat kembali menjelang pemilu presiden. Setelah Timor Leste merdeka pada 20 Mei 2002, ia terpilih menjadi presiden.
Pagi hari, 20 November 1992 Xanana Gusmão ditangkap oleh Team Kolakops Timor Timur pada saat sedang tidur.Ia tertangkap di rumah seorang polisi lalu lintas bernama Augusto. Setelah ditangkap dia diserahkan kepada Pangkolakops Timor Timur Brigjen TNI Theo Sjafei dan di kediamannya ia diperlakukan antara sesama panglima perang, dan kemudian diserahkan ke sel Polwil Timor Timur.
Setelah menceraikan istri pertamanya yang orang Timor asli dan bernama Emilia Batista, Xanana menikah dengan seorang wanita Australia bernama Kirsty Sword. Mereka mempunyai anak dengan nama Alexander Sword Gusmao.

Xanana Gusmao Perdana Menteri Timor Leste memeriksa Guard of Honour saat sambutan Maori di Parlemen Grounds pada 28 Agustus 2008 di Wellington, Selandia Baru. Xanana Gusmao melakukan kunjungan dua hari ke Selandia Baru (Foto oleh Marty Melville / Getty Images) Lokal Caption  Xanana Gusmao  (Juli 28, 2008 - Foto oleh Marty Melville / Getty Images AsiaPac)

Krisis 2006
Pada Maret 2006, 691 prajurit Timor Leste dipecat atas tuduhan melakukan desersi. Hal ini menimbulkan gejolak politik yang hebat, sehingga Gusmão mengambil alih kendali pemerintahan. Karismanya sebagai pemimpin perjuangan rakyat Timor Leste cukup berhasil menenangkan para pemberontak, meskipun sebelumnya Gusmão terpaksa harus mengundang pasukan-pasukan asing dari Australia, Selandia Baru dan Malaysia untuk membantunya meredam para pasukan pemberontak.

Perdana Menteri Mari Alkatiri dituding banyak berperan dalam pemecatan para prajurit Timor Leste. Karena itu, pada Juni 2006 Gusmão mendesak agar Alkatiri mengundurkan diri. Setelah sebelumnya bersikeras tidak akan mundur, Alkatiri akhirnya menyerah dan mengumumkan pada 26 Juni 2006, bahwa ia mengundurkan diri dari jabatannya. Sehari sebelumnya José Ramos Horta menyatakan tidak mau ambil bagian dalam kabinet Alkatiri serta melepaskan kedudukannya sebagai menteri luar negeri dan menteri pertahanan. Selain Ramos Horta, tujuh anggota kabinet lainnya di bawah Alkatiri pun menyatakan siap mundur.[1]

Penghargaan
Pada 1999 Gusmão dianugerahi Penghargaan Sakharov untuk Kebebasan Pemikiran.
Pada 2000 ia dianugerahi Penghargaan Perdamaian Sydney karena menjadi "Pemimpin yang berani dan berpendirian kuat untuk kemerdekaan rakyat Timor Timur".

José Ramos Horta
Presidente de Timor Leste, José Manuel Ramos-Horta
juventudrebelde.cu

José Manuel Ramos-Horta (Portugis: IPA: [ʒu'zɛ 'ʁɐmuz 'oɾtɐ]), GCL (lahir 26 Desember 1949) adalah Presiden Timor Leste kedua sejak merdeka dari Indonesia, mulai menjabat pada 20 Mei 2007. Sebelumnya ia menjabat sebagai Perdana Menteri Timor Leste (8 Juli 2006 - 20 Mei 2007) dan Menteri Luar Negeri Timor Leste sejak kemerdekaannya pada 2002 hingga mengundurkan diri pada tahun 2006, setelah sebelumnya menjadi juru bicara bagi perlawanan Timor Leste di pengasingan selama pendudukan Indonesia antara 1975 dan 1999. Ia mendapat Penghargaan Perdamaian Nobel tahun 1996. [1]
Horta berdarah mestiço, dilahirkan di Dili, yang kini menjadi ibukota Timor Leste, oleh ibu orang Timor dan bapak orang Portugis yang diasingkan ke Timor Portugis oleh diktator Salazar. Dia dididik di sebuah misi Katolik di desa kecil di Soibada, yang belakangan dipilih oleh Fretilin sebagai markas besarnya setelah invasi Indonesia. Dari sebelas saudaranya, empat terbunuh oleh militer Indonesia. Horta sangat aktif terlibat dalam pengembangan kesadaran berpolitik di Timor Portugis yang menyebabkannya diasingkan selama dua tahun pada 1970-1971 ke Afrika Timur Portugis. Ini adalah sebuah tradisi keluarga karena kakeknya juga pernah diasingkan, dari Portugal ke pulau Azores, kemudian ke Cape Verde, Guinea Portugis dan akhirnya ke Timor Portugis. Horta adalah seorang moderat di kalangan kepemimpinan nasionalis Timor yang sedang muncul. Ia diangkat menjadi Menteri Luar Negeri dari pemerintahan "Republik Demokratis Timor Leste" yang diproklamasikan oleh partai-partai pro-kemerdekaan pada November 1975. Ketika diangkat menjadi menteri, Ramos Horta baru berusia 25 tahun. Ia meninggalkan Timor Leste tiga hari sebelum pasukan-pasukan Indonesia menyerang, untuk memohon pembelaan bagi kasus Timor di depan PBB.
Ramos Horta tiba di New York untuk berpidato di depan Dewan Keamanan PBB dan mendesak mereka untuk mengambil tindakan terhadap militer Indonesia yang melakukan pembantaian atas lebih dari 200.000 orang Timor Leste selama 1976 dan 1981. José Ramos Horta adalah Wakil Tetap Fretilin untuk PBB selama 10 tahun berikutnya.

Penghargaan
Pada tahun 1993, Penghargaan Rafto diberikan kepada rakyat Timor Leste. Ramos Horta, Menteri Luar Negeri di pembuangan, mewakili bangsanya pada penyerahan penghargaan itu.
Pada Desember 1996, José Ramos Horta berbagi Penghargaan Perdamaian Nobel dengan rekan senegaranya, Uskup Carlos Filipe Ximenes Belo. Komite Nobel memilih kedua penerima ini untuk 'usaha giat untuk mencegah penindasan terhadap sekelompok kecil rakyat', dengan harapan bahwa 'penghargaan ini akan mendorong usaha-usaha penyelesaian konflik di Timor Leste secara diplomatik berdasarkan hak rakyat untuk menentukan nasibnya sendiri. Komite ini menganggap José Ramos Horta sebagai "juru bicara internasional terkemuka bagi perjuangan Timor Leste sejak 1975."

Pendidikan
José Ramos Horta belajar Hukum Internasional Publik di Akademi Hukum Internasional Den Haag (1983) dan di Universitas Antioch di mana ia mendapatkan gelar Master dalam Studi Perdamaian (1984). Dia terlatih dalam Hukum Hak Asasi Manusia di Institut Internasional Hak-hak Asasi Manusia di Strasbourg, Perancis (1983). Dia juga mengikuti kelas-kelas pascasarjana dalam Kebijakan Luar Negeri Amerika di Universitas Columbia di New York (1983). Dia juga adalah anggota Perkumpulan Senior College St Anthony, Oxford, England (1987).

Sebagai Perdana Menteri
Di tengah krisis dalam negeri, Ramos Horta mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Menteri Luar Negeri (25 Juni 2006). Ia menyatakan, "tidak ingin dirinya terkait dengan pemerintahan saat (itu) maupun pemerintah apapun yang terkait dengan Alkatiri."[2] Beberapa hari sebelumnya, Mari Alkatiri telah menolak tuntutan dari Presiden Gusmao agar mengundurkan diri dari jabatan perdana menteri. Akhirnya, pada 26 Juni 2006, Alkatiri menyatakan mengundurkan diri. Ramos Horta mengambil alih pimpinan pemerintahan sementara.
Bersama Menteri Pertanian Estanislau da Silva, namanya diusulkan Fretilin untuk mengisi posisi perdana menteri. Ternyata, presiden memilihnya pada 8 Juli 2006 dan dilantik pada 10 Juli 2006 di bawah pengawalan para prajurit komando Australia yang memimpin sebuah pasukan penjaga perdamaian 2500 orang. Jabatan pemerintahanya berlangsung hingga pemilu 2007. Ia bertekad mengakhiri kekerasan yang telah mengguncang negaranya dan menyebabkan 150.000 orang mengungsi. "Kami akan bekerja sangat keras," katanya menegaskan.
Ia mengungkapkan sejumlah janji, yaitu; mengundang investor, memberantas masyarakat miskin, serta menciptakan stabilitas politik dan keamanan di dalam negeri. Ia kemudian meminta Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono agar membuka sejumlah titik perbatasan darat Timor Leste dengan Indonesia dan mengadakan kunjungan kenegaraan pada 25 Juli 2006.

Sebagai Presiden
Pada 25 Februari 2007, ia menyakan akan maju dalam Pemilihan Presiden Timor Leste 2007. Ia menyatakan termotivasi oleh sejumlah hal, di antaranya dukungan berbagai pihak di negerinya.
Pada tanggal 20 Mei 2007 ia terpilih sebagai Presiden Timor Leste yang ke-2.

Peristiwa penembakan
Pada 11 Februari 2008, kelompok pemberontak Mayor Alfredo Reinado menyerang kediaman dan melukainya dengan parah. Pada kejadian tersebut membuat kelompok penyerang Alfredo beserta seorang anak buahnya bernama Leopoldino tewas tertembak oleh FALINTIL-FDTL yang menjaga kediaman Horta. [3] Pada 1 Maret 2008, Amaro da Costa yang dituduh menembak sang presiden ditahan setelah menyerahkan diri kepada polisi. Sejak kejadian tersebut Horta dirawat di Royal Hospital Darwin Rumah Sakit Royal Darwin, Australia dan kembali lagi ke Timor-Leste pada 17 April 2008.

Vicente Guterres
Vicente da Silva Guterres (lahir di Baguia, Timor Portugis, 22 Januari 1955) adalah seorang politikus Timor Leste, anggota Parlemen Nasional Timor Leste, dan Wakil Presiden sejak 2007.[1]
Guterres menjadi Pejabat Presiden Timor Leste setelah Presiden José Ramos-Horta terkena percobaan pembunuhan di rumahnya pada 11 Februari 2008. Sebagai pejabat Presiden, ia mengumumkan selama dua hari negara dalam keadaan darurat sejak 12 Februari 2008.[2] Setelah kembali dari Portugal, presiden parlemen Fernando de Araújo didaulat menggantikannya untuk posisi presiden Timor Leste.[3]

Fernando de Araújo
Fernando de Araújo atau lebih dikenal dengan Fernando Lasama (lahir di Manutasi, Ainaro, 26 Februari 1963; umur 48 tahun) adalah Presiden Parlemen Timor-Leste dan sekaligus Presiden Partai Demokrat (PD). Ia merupakan salah satu pemimpin dari generasi muda yang memegang salah satu lembaga tinggi negara yaitu Parlamento Nacional. Ia bersama rekan-rekannya yang sesama RENETIL seperti Mariano Sabino Lopes mendirikan Partido Democrático pada tanggal 10 Juni 2001 di Dili yang kemudian menjadi peserta Pemilu pada tahun 2001.

Pendidikan
Fernando de Araújo yang lahir dari keluarga petani ini menyelesaikan pendidikan menengahnya dari SMA Negeri 1 Becora pada tahun 1985 kemudian melanjutkan pendidikanya di Universitas Udayana Bali Indonesia pada tahun 1985 - 1989. Namun tidak dapat diselesaikan karena terlibat dalam gerakan bawah tanah (clandestino) melawan pendudukan militer Indonesia di Timor-Leste. Setelah Timor-Leste melepaskan diri dari Indonesia melalui referendum beliau mengambil kesempatan untuk menyelesaikan pendidikannya di Universitas Melbourne, Australia pada tahun 1999 sampai 2001.